Keuangan.id – 15 Mei 2026 | Bank Central Asia (BCA) telah mengucurkan kredit jumbo sebesar Rp17 triliun kepada PT DCII Tbk, perusahaan yang dimiliki oleh Toto Sugiri. Kredit ini diberikan untuk mendukung kegiatan operasional dan ekspansi bisnis DCII.
BCA merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia dan telah memiliki pengalaman luas dalam memberikan kredit kepada perusahaan-perusahaan besar. Dengan kredit ini, DCII diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jaringan bisnisnya.
Profil DCII
DCII merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri dan telah memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun. Perusahaan ini telah memiliki reputasi yang baik dalam hal kualitas produk dan layanan.
DCII memiliki beberapa lini bisnis, termasuk industri manufaktur, konstruksi, dan perdagangan. Dengan kredit dari BCA, perusahaan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan produksi dan memperluas jaringan bisnisnya.
Komentar dari Toto Sugiri
Toto Sugiri, pemilik DCII, menyambut baik kredit dari BCA. Ia berharap bahwa kredit ini dapat membantu perusahaan untuk meningkatkan kemampuan produksi dan memperluas jaringan bisnisnya.
"Kami sangat berterima kasih kepada BCA atas kepercayaan yang diberikan kepada kami. Kami berharap bahwa kredit ini dapat membantu kami untuk meningkatkan kemampuan produksi dan memperluas jaringan bisnis kami," kata Toto Sugiri.
Dampak terhadap Ekonomi
Kredit dari BCA kepada DCII diharapkan dapat memiliki dampak positif terhadap ekonomi Indonesia. Dengan peningkatan kemampuan produksi dan perluasan jaringan bisnis, DCII dapat meningkatkan pendapatan dan menciptakan lapangan kerja baru.
Ekonomi Indonesia saat ini sedang mengalami pertumbuhan yang stabil, dan kredit dari BCA kepada DCII dapat membantu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. juga telah mengucurkan fasilitas pinjaman jangka panjang kepada PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. untuk refinancing senior notes dan kebutuhan korporasi emiten kawasan industri tersebut.
Penandatanganan fasilitas pembiayaan dilakukan pada Rabu (13/5/2026) dengan tenor pinjaman selama 15 tahun dalam mata uang rupiah dan bunga mengambang sebesar 7% per tahun.
Dana hasil fasilitas tersebut akan digunakan terutama untuk refinancing senior notes perseroan senilai US$185,856 juta yang akan jatuh tempo pada Desember 2027.
Selain itu, terdapat tambahan fasilitas term loan sebesar Rp70 miliar untuk mendukung kebutuhan umum korporasi.
Wakil Direktur Utama Jababeka Budianto Liman mengatakan transaksi tersebut menjadi bagian dari strategi pengelolaan kewajiban atau liability management perseroan secara proaktif.
"Transaksi ini secara signifikan memperpanjang profil jatuh tempo utang perseroan, memperkuat posisi likuiditas, serta semakin meningkatkan fleksibilitas keuangan Perseroan," ujar Budianto dalam keterangannya, Kamis (14/5).
Menurut dia, fasilitas pembiayaan dari Bank Mandiri juga menjadi solusi pendanaan yang prudent di tengah meningkatnya volatilitas pasar utang internasional.
"Dukungan kuat dari sektor perbankan domestik juga mencerminkan kepercayaan yang berkelanjutan terhadap strategi, kinerja operasional, dan fundamental jangka panjang Perseroan," katanya.
Jababeka menjelaskan penggunaan pinjaman dalam mata uang rupiah dilakukan untuk menyelaraskan struktur pembiayaan dengan mata uang pelaporan perseroan sehingga dapat mengurangi volatilitas laba akibat fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Sehubungan dengan fasilitas pembiayaan tersebut, perseroan memberikan jaminan berupa sejumlah aset milik perusahaan dan entitas anak dengan nilai jaminan yang memenuhi rasio coverage sebesar 120% dari nilai pinjaman.
Perseroan menyebut pemberian jaminan tersebut bukan merupakan transaksi material sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No.17/POJK.04/2020 sehingga tidak memerlukan persetujuan rapat umum pemegang saham.
Jababeka menilai transaksi ini memberikan sejumlah manfaat utama, antara lain memperpanjang profil rata-rata jatuh tempo utang melalui tenor baru selama 15 tahun, melakukan refinancing senior notes jauh sebelum jatuh tempo, memperkuat likuiditas, serta mengurangi risiko refinancing di tengah volatilitas pasar.
Ke depan, perseroan menyatakan tetap fokus menjaga struktur permodalan yang prudent, mempertahankan likuiditas yang kuat, dan mengoptimalkan profil pendanaan jangka panjang.
Dalam beberapa tahun terakhir, BCA telah melakukan beberapa penyaluran kredit kepada perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. Penyaluran kredit ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
BCA juga telah melakukan beberapa inovasi dalam bidang perbankan, termasuk pengembangan layanan perbankan digital. Layanan ini diharapkan dapat mempermudah nasabah dalam melakukan transaksi perbankan.
Dengan demikian, BCA tetap menjadi salah satu bank terbesar dan terpercaya di Indonesia. Penyaluran kredit kepada DCII dan Jababeka merupakan contoh dari komitmen BCA untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
