Trump Tanda Tangan di Uang $100 Baru Picu Protes Besar: Sejarah, Kritik, dan Jejak Serupa di Dunia

Trump Tanda Tangan di Uang $100 Baru Picu Protes Besar: Sejarah, Kritik, dan Jejak Serupa di Dunia
Trump Tanda Tangan di Uang $100 Baru Picu Protes Besar: Sejarah, Kritik, dan Jejak Serupa di Dunia

Keuangan.id – 30 Maret 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan menjadi tokoh pertama dalam sejarah yang menandatangani uang kertas pecahan 100 dolar AS yang dijadwalkan beredar mulai Juni 2026. Kebijakan ini diumumkan sebagai bagian perayaan 250 tahun berdirinya negara tersebut dan sekaligus mengakhiri tradisi lebih dari satu setengah abad—sejak 1866—di mana uang kertas Amerika hanya menampilkan tanda tangan pejabat bendahara, bukan presiden yang sedang menjabat.

Latar Belakang Kebijakan

Sejak 1866 peraturan federal melarang penggunaan gambar atau tanda tangan presiden hidup pada mata uang. Namun, pada tahun 2026 pemerintah AS memutuskan mengubah aturan itu dengan menambahkan tanda tangan Trump pada seri baru uang $100. Langkah ini dipandang sebagai simbolik peringatan sejarah, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang implikasi politik dan budaya.

Reaksi Nasional dan Internasional

Pengumuman tersebut langsung menuai kritik keras dari berbagai kalangan. Aktivis, politisi oposisi, serta organisasi hak sipil menilai tindakan ini ‘menjijikkan’ dan mengingatkan pada praktik otoriter di mana pemimpin yang berkuasa menempelkan namanya pada simbol negara. Di media sosial, hashtag #TrumpSignature dan #NoKings menjadi tren, menandakan besarnya kegelisahan publik.

Protes ‘No Kings’ Menggema di Seluruh Amerika

Seiring dengan kontroversi tanda tangan di uang, demonstrasi anti‑Trump bernama ‘No Kings’ berlangsung pada 28 Maret 2026. Diperkirakan jutaan warga—sebagian laporan menyebut delapan juta orang—turun ke jalan di lebih dari seratus kota, termasuk Palm Beach, Florida, Minneapolis, Minnesota, serta kota‑kota di luar negeri seperti Paris dan London. Para pengunjuk rasa menuntut penolakan kebijakan luar negeri agresif, penegakan imigrasi keras, serta kenaikan biaya hidup yang dianggap tidak adil.

  • Demonstrasi terbesar dalam sejarah modern AS sejak protes lingkungan 1970.
  • Tanpa afiliasi partai politik, aksi dikoordinasikan oleh jaringan aktivis independen.
  • Tokoh publik seperti aktor Robert De Niro ikut berpartisipasi, menyebut Trump ‘orang gila’.

Jejak Sejarah di Negara Lain

Menampilkan pemimpin yang masih berkuasa pada uang kertas bukanlah hal eksklusif Amerika. Indonesia pernah melakukannya pada era Orde Baru, ketika presiden pertama Sukarno dan presiden kedua Suharto muncul di desain uang rupiah saat masih menjabat. Setelah kejatuhan Suharto pada 1998, uang bergambar ia ditarik pada tahun 2000 sebagai bagian dari reformasi pasca‑krisis finansial.

Di Afrika, mantan pemimpin Zaire, Mobutu Sese Seko, menempatkan wajahnya pada uang kertas setelah mengubah nama negara menjadi Zaire pada 1971. Setelah ia digulingkan pada 1997, pemerintah baru melubangi gambar tersebut sebelum mengganti desain.

Analisis Dampak Ekonomi dan Simbolik

Penggantian desain uang memerlukan biaya produksi yang signifikan. Bank Sentral Amerika memperkirakan tambahan biaya sekitar 150 juta dolar untuk mencetak seri baru dengan tanda tangan Trump. Selain itu, perubahan ini dapat memicu ketidakpastian pasar valuta asing, meskipun dampaknya diperkirakan terbatas karena nilai nominal $100 tetap stabil.

Dari perspektif simbolik, penambahan tanda tangan presiden hidup menandakan pergeseran norma kebangsaan. Kritikus berargumen bahwa hal ini dapat membuka pintu bagi penggunaan simbol negara untuk kepentingan pribadi, sedangkan pendukung melihatnya sebagai penghormatan kepada pemimpin yang ‘mengubah’ ekonomi Amerika.

Secara keseluruhan, keputusan menambahkan tanda tangan Donald Trump pada uang $100 menimbulkan perdebatan yang melampaui aspek teknis pencetakan uang. Kontroversi ini memicu protes luas, mengingatkan pada praktik serupa di Indonesia dan negara lain, serta menimbulkan pertanyaan tentang batas antara simbol kebangsaan dan personalisasi kepemimpinan. Bagaimana respons legislatif dan publik pada masa mendatang akan menjadi penentu apakah kebijakan ini menjadi titik balik dalam sejarah mata uang atau sekadar episode kontroversial yang berakhir setelah masa transisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *