Keuangan.id – 31 Maret 2026 | Pertumbuhan kredit konsumsi pada Februari 2026 mencatat penurunan menjadi 6,3% secara tahunan, menandakan penurunan daya beli konsumen Indonesia meski berada di tengah periode Ramadan yang biasanya meningkatkan aktivitas belanja.
Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa laju pertumbuhan kredit konsumsi menurun secara konsisten selama beberapa bulan terakhir. Pada Januari 2026, kredit konsumsi tumbuh 7,5% YoY, namun pada Februari hanya 6,3%, menandakan perlambatan yang signifikan.
| Bulan | Pertumbuhan Kredit Konsumsi YoY |
|---|---|
| Januari 2026 | 7,5% |
| Februari 2026 | 6,3% |
Beberapa faktor utama yang memicu penurunan ini antara lain:
- Inflasi yang tetap tinggi, menggerus daya beli rumah tangga.
- Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal.
- Ketidakpastian ekonomi global yang mempengaruhi kepercayaan konsumen.
- Pergeseran pola belanja selama Ramadan, dimana sebagian konsumen menunda pembelian besar demi persiapan ibadah.
Meskipun Ramadan biasanya meningkatkan permintaan barang konsumsi, tekanan inflasi dan biaya kredit yang meningkat tampak mengurangi antusiasme konsumen untuk mengambil pinjaman baru. Hal ini tercermin dalam penurunan volume permohonan kredit di bank-bank komersial selama minggu pertama Ramadan.
Para analis memperkirakan bahwa bila tekanan inflasi tidak terkendali dan suku bunga tetap tinggi, pertumbuhan kredit konsumsi dapat melambat lebih jauh pada kuartal berikutnya. Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan tetap memantau indikator daya beli serta menyesuaikan kebijakan fiskal dan moneter untuk menstimulasi konsumsi tanpa menambah beban inflasi.
Secara keseluruhan, penurunan pertumbuhan kredit konsumsi pada Februari 2026 menjadi sinyal peringatan bahwa daya beli masyarakat sedang mengalami tekanan yang signifikan, meski berada dalam momen Ramadan yang biasanya meningkatkan aktivitas ekonomi rumah tangga.











