Keuangan.id – 31 Maret 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pidato kunci pada Forum Bisnis Indonesia‑Jepang yang digelar di Tokyo pada Senin, 30 Maret 2026. Dalam sambutan yang berlangsung selama lebih dari dua puluh menit, ia menegaskan tekad pemerintah untuk menegakkan supremasi hukum, melaksanakan reformasi tata kelola yang bersih dan efisien, serta mempercepat transformasi ekonomi nasional. Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal kuat bagi para investor Jepang dan mitra internasional bahwa Indonesia berada pada jalur perubahan struktural yang komprehensif.
Supremasi Hukum dan Tata Kelola Bersih
Presiden Prabowo menekankan bahwa supremasi hukum menjadi landasan utama bagi stabilitas politik dan kepercayaan publik. Ia menambahkan, “Kami ingin menegakkan supremasi hukum, dan kami akan menegakkan supremasi hukum.” Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat institusi peradilan, memperbaiki mekanisme penegakan regulasi, serta memberantas praktik korupsi yang masih meresap di beberapa sektor. Menurut Prabowo, masyarakat menuntut pemerintahan yang tidak hanya baik, tetapi juga bersih, transparan, dan efisien. Oleh karena itu, reformasi tata kelola menjadi agenda prioritas yang harus diselesaikan secara cepat dan konsisten.
Transformasi Ekonomi: Hilirisasi, Industrialisasi, dan Nilai Tambah
Dalam rangka mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, Presiden menekankan pentingnya hilirisasi dan industrialisasi. “Kita harus naik ke rantai nilai,” ujarnya. Pemerintah berencana meningkatkan nilai tambah produk domestik melalui pengolahan mineral kritis, logam, serta komoditas pertanian. Prabowo menegaskan bahwa mineral penting Indonesia merupakan aset strategis yang harus dilindungi demi generasi mendatang. Kebijakan perlindungan tersebut diharapkan dapat menarik investasi teknologi tinggi, memperluas basis manufaktur, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Energi Hijau dan Target Surya 100 GW
Transformasi energi menjadi salah satu pilar utama dalam agenda reformasi. Prabowo mengumumkan target ambisius pencapaian 100 gigawatt kapasitas listrik dari energi surya dalam tiga tahun ke depan. Ia menambahkan bahwa percepatan transisi energi terbarukan tidak hanya relevan untuk mengurangi emisi karbon, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global. Selain energi surya, pemerintah juga menggarisbawahi potensi panas bumi, biomassa, dan bahan bakar nabati, termasuk peningkatan campuran biodiesel hingga 50 persen serta pengembangan etanol berbasis kelapa sawit.
Kelestarian Lingkungan dan Reboisasi Besar‑Besaran
Indonesia, yang dikenal sebagai “paru‑paru dunia”, menjadi fokus perhatian dalam upaya reboisasi. Prabowo mengajak mitra internasional untuk berkontribusi dalam menumbuhkan kembali hutan yang telah rusak. “Hutan‑hutan yang telah hancur harus direboisasi secara besar‑besaran, bukan hanya untuk kebaikan Indonesia, tetapi juga untuk kebaikan dunia,” tegasnya. Inisiatif ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas udara, melindungi keanekaragaman hayati, serta mendukung komitmen Indonesia pada perjanjian iklim global.
Tantangan dan Komitmen Pemerintah
Presiden tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi, baik dari sisi ekonomi makro, perubahan iklim, maupun dinamika geopolitik. Ia menyatakan bahwa pemerintah menyadari beratnya beban reformasi, namun tetap bertekad menjawab tuntutan rakyat. “Kami tahu ini adalah tantangan kami… inilah yang dituntut rakyat kami dari kami,” ujarnya. Dengan strategi yang terintegrasi—mulai dari perbaikan hukum, reformasi birokrasi, industrialisasi, hingga energi hijau—Indonesia berharap dapat menciptakan masyarakat modern, rasional, dan sejahtera.
Pidato tersebut diakhiri dengan harapan bahwa mitra Jepang serta negara‑negara lain dapat melihat secara jelas arah transformasi Indonesia. Prabowo menegaskan kesiapan pemerintah untuk membuka peluang investasi, menyederhanakan prosedur perizinan, dan menyediakan kerangka regulasi yang stabil. Jika komitmen ini dijalankan secara konsisten, Indonesia diproyeksikan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, serta memperkuat posisi strategisnya di panggung internasional.











