Keuangan.id – 30 Maret 2026 | Unit usaha anak perusahaan ERAA mencatat pertumbuhan penjualan yang signifikan pada tahun 2025, namun laba bersih justru mengalami penurunan. Kenaikan penjualan tidak cukup menutupi beban operasional yang meningkat, sehingga margin keuntungan tertekan.
Berikut ringkasan kinerja keuangan selama dua tahun terakhir:
| Tahun | Penjualan (Miliar IDR) | Laba Bersih (Miliar IDR) |
|---|---|---|
| 2024 | 1.200 | 150 |
| 2025 | 1.580 | 90 |
Penjualan meningkat sekitar 31 % dari 2024 ke 2025, namun laba bersih turun hampir 40 %. Penyebab utama penurunan profitabilitas antara lain:
- Kenaikan biaya operasional, terutama pada logistik dan tenaga kerja, yang naik lebih cepat dibanding pertumbuhan penjualan.
- Peningkatan beban bunga dan provisi pajak akibat penyesuaian kebijakan fiskal.
- Investasi pada teknologi baru yang masih dalam fase implementasi dan belum menghasilkan efisiensi biaya yang signifikan.
Arus kas operasional juga menunjukkan tekanan, dengan kas bersih dari aktivitas operasi berkurang sekitar 20 % dibandingkan tahun sebelumnya. Manajemen menargetkan restrukturisasi biaya dan peningkatan produktivitas untuk mengembalikan margin pada kuartal berikutnya.
Para analis memperingatkan bahwa jika tekanan biaya tidak dapat dikendalikan, profitabilitas anak usaha ERAA dapat terus tererosi, meski volume penjualan tetap kuat.











