IHSG Sesi 1 Turun 0,38% ke 7.070: 5 Saham Terpuruk dan Kondisi Pasar Asia

IHSG Sesi 1 Turun 0,38% ke 7.070: 5 Saham Terpuruk dan Kondisi Pasar Asia
IHSG Sesi 1 Turun 0,38% ke 7.070: 5 Saham Terpuruk dan Kondisi Pasar Asia

Keuangan.id – 31 Maret 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi pertama perdagangan pada Senin, 30 Maret 2026, dalam zona merah. Indeks turun 26,66 poin atau 0,38 persen menjadi 7.070,40. Nilai transaksi tercatat Rp 7,73 triliun dengan volume 14,42 miliar lembar saham dan frekuensi perdagangan 1,03 juta kali.

Pergerakan Saham Teratas

Di antara ribuan saham yang diperdagangkan, lima emiten mencatat penurunan paling tajam. FMII (Fortune Mate Indonesia) turun 36 poin (13,04%) ke level 240, diikuti BBLD (Buana Finance) yang melorot 100 poin (11,49%) ke 770. LUCY (Lima Dua Lima Tiga) jatuh 120 poin (9,88%) ke 1.095, sementara GIAA (Garuda Indonesia) kehilangan 7 poin (8,97%) hingga 71. ATIC (Anabatic Technologies) menurun 50 poin (8,93%) menjadi 510.

Di sisi lain, lima saham paling menguat menggerakkan pasar positif. RGAS (Kian Santang Muliatama) naik 30,59% hingga 111, GSMF (Equity Development Investment) melaju 30,00% ke 117, NZIA (Nusantara Almazia) naik 19,59% menjadi 232, ZYRX (Zyrexindo Mandiri Buana) melesat 16,55% ke 162, dan BAIK (Bersama Mencapai Puncak) meningkat 16,00% ke 348.

Data Transaksi dan Saham Favorit

Berikut ringkasan nilai transaksi dan saham yang menjadi sorotan:

  • Top Value: BBCA (Bank Central Asia) dengan nilai transaksi Rp 1,03 triliun, BBRI (Bank Rakyat Indonesia) Rp 671,55 miliar, BUMI (Bumi Resources) Rp 408,25 miliar, BMRI (Bank Mandiri) Rp 251,98 miliar, AADI (Adaro Andalan Indonesia) Rp 218,29 miliar.
  • Top Volume: GOTO (GoTo Gojek Tokopedia) 20,34 juta lembar, BUMI 18,95 juta lembar, GIAA 8,33 juta lembar, BIPI (Astrindo Nusantara Infrastruktur) 7,65 juta lembar, DEWA (Darma Henwa) 4,07 juta lembar.

Sektor dan Indeks Sekunder

Mayoritas indeks sektoral berada di zona merah pada sesi I, termasuk keuangan, bahan baku, transportasi, industri, konsumer non‑siklikal, infrastruktur, konsumer siklikal, properti, dan kesehatan. Hanya sektor energi, industri, dan teknologi menunjukkan penguatan.

Indeks turunan juga mengalami tekanan: LQ45 turun 0,34%, IDX30 melambat 0,71%, dan MNC36 melemah 0,56%. Sebaliknya, indeks JII (Jakarta Islamic Index) justru naik 1,33%.

Perbandingan dengan Pasar Asia

Data dari Bloomberg menampilkan pergerakan pasar regional pada hari yang sama. Indeks Nikkei 225 di Jepang terpuruk 3,52% ke 51.541,42. Hang Seng di Hong Kong turun 0,91% ke 24.727,84. Di China, SSE Composite mencatat kenaikan 0,23% ke 3.922,72, sementara Straits Times di Singapura naik tipis 0,02% ke 4.899,19.

Nilai tukar rupiah melemah 13 poin atau 0,08 persen, menutup pada Rp 16.993 per dolar AS.

Interpretasi dan Dampak

Penurunan IHSG dipengaruhi oleh sentimen global yang masih mengkhawatirkan, terutama melemahnya permintaan di pasar utama dan volatilitas nilai tukar. Meskipun ada aksi beli pada saham-saham kecil berkapitalisasi yang mengalami lonjakan harga, tekanan penjualan di sektor keuangan dan bahan baku menggerakkan indeks utama ke bawah.

Investor domestik tampak berhati-hati, mengingat volume perdagangan yang cukup tinggi (lebih dari 14 miliar lembar) namun nilai transaksi belum menunjukkan pemulihan signifikan. Saham-saham defensif seperti BBCA dan BBRI tetap menjadi pilihan utama, sementara saham-saham yang mengalami penurunan tajam dapat menjadi target pembeli jangka pendek yang mencari rebound.

Dengan kalender ekonomi internasional yang masih menampilkan data inflasi dan kebijakan moneter yang belum pasti, pasar Indonesia diperkirakan akan tetap berfluktuasi dalam beberapa sesi ke depan. Pengawasan terhadap pergerakan nilai tukar dan kebijakan fiskal pemerintah akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah IHSG selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *