Keuangan.id – 27 April 2026 | Negosiasi damai yang diharapkan dapat meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui kebuntuan. Kegagalan pertemuan kedua ini langsung memicu gejolak di pasar energi global, terutama pada harga minyak dunia.
Kegagalan Negosiasi AS-Iran
Pertemuan kedua yang dijadwalkan antara delegasi Amerika Serikat dan perwakilan Iran berakhir tanpa kesepakatan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusan khusus, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad. Dalam unggahan di media sosialnya, Trump menyoroti “terlalu banyak waktu terbuang” serta kebingungan internal di pihak Tehran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sempat mengunjungi Islamabad pada akhir pekan, namun hanya bertemu dengan pejabat Pakistan dan tidak mengadakan pertemuan dengan delegasi Amerika. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan tidak ada pertemuan yang direncanakan antara kedua negara.
Ketegangan semakin memuncak setelah laporan muncul bahwa pasukan Garda Revolusi Iran menaiki dua kapal kargo di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar tiga perempat produksi minyak dunia. Insiden ini menambah kekhawatiran akan potensi gangguan suplai minyak.
Dampak pada Harga Minyak Dunia
Pasar merespons cepat. Pada perdagangan terbaru, indeks minyak Brent naik lebih dari 2 persen, mencapai US$107,89 per barel atau setara sekitar Rp1.834.130 per barel (asumsi kurs Rp17.000 per dolar). Harga minyak mentah Amerika Serikat (WTI) juga menguat menjadi US$96,63 per barel, setara Rp1.642.710 per barel.
- Brent: US$107,89/barel (≈ Rp1,834,130)
- WTI: US$96,63/barel (≈ Rp1,642,710)
- Kenaikan: >2% dalam satu sesi
Kenaikan ini mencerminkan sentimen pasar yang sangat sensitif terhadap risiko geopolitik. Analis energi menilai bahwa selama negosiasi damai tidak kunjung terwujud, volatilitas harga akan tetap tinggi, dengan potensi lonjakan lebih lanjut jika ketegangan di Selat Hormuz bereskalasi.
Reaksi Pasar dan Proyeksi
Investor institusional dan perusahaan energi telah menyesuaikan portofolio mereka. Beberapa hedge fund meningkatkan eksposur pada kontrak berjangka minyak, sementara produsen minyak nasional memperketat kebijakan penjualan di pasar spot.
Proyeksi jangka pendek menunjukkan kemungkinan harga tetap berada di kisaran US$105–110 per barel untuk Brent, tergantung pada perkembangan diplomatik. Jika dialog kembali terbuka, harga dapat mengalami koreksi moderat; sebaliknya, eskalasi militer atau penangkapan kapal tambahan dapat mendorong harga melewati US$115 per barel.
Implikasi bagi Ekonomi Global
Lonjakan harga minyak dunia tidak hanya berdampak pada industri energi, tetapi juga menambah tekanan inflasi di banyak negara importir. Negara-negara dengan ketergantungan tinggi pada impor minyak diperkirakan akan mengalami kenaikan biaya transportasi, yang pada gilirannya dapat memicu kenaikan harga barang konsumsi.
Bank sentral di beberapa negara telah memperingatkan bahwa kenaikan komoditas dapat memperlambat pemulihan ekonomi pasca‑pandemi, terutama di sektor manufaktur dan logistik.
Secara keseluruhan, situasi geopolitik yang belum menemukan titik temu menimbulkan ketidakpastian yang signifikan bagi pasar energi dan ekonomi global.











