Keuangan.id – 13 April 2026 | Indonesia tengah bersiap menghadapi musim kemarau yang diperkirakan akan memuncak pada pertengahan tahun 2026. Kondisi ini diperparah oleh potensi munculnya fenomena El Nino, yang dapat menurunkan curah hujan secara signifikan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan serta krisis air bersih. Berbagai pihak, mulai dari lembaga pemerintah, organisasi keagamaan, hingga komunitas pertanian, mengintensifkan langkah mitigasi untuk melindungi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
El Nino dan Dampaknya pada Musim Kemarau
Fenomena El Nino, yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik ekuatorial, diperkirakan akan berkembang menjadi kondisi lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 dengan probabilitas 50‑80 persen. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKM) menyatakan bahwa fase netral saat ini dapat beralih menjadi El Nino, memperparah musim kemarau yang sudah berlangsung.
Jika El Nino bersamaan dengan musim kemarau, curah hujan akan turun drastis, memperpanjang periode kering, serta meningkatkan suhu udara. Dampak langsung meliputi menurunnya produksi pertanian, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta menurunnya ketersediaan air bersih di wilayah rawan.
Kesiapsiagaan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC)
MDMC mengajak relawan dan masyarakat luas untuk memperkuat sistem peringatan dini serta meningkatkan kesiapsiagaan. Perwakilan Mitigasi dan Kesiapsiagaan MDMC, Wahyu Heniwat, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan warga dalam memetakan risiko bencana. Upaya tersebut mencakup penyuluhan tentang pengelolaan lahan, pelatihan evakuasi, dan penyediaan perlengkapan darurat.
Langkah Pemerintah Daerah: Contoh Situbondo dan Malang
Di Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Situbondo telah menyiapkan langkah mitigasi yang melibatkan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi. Wabup Situbondo, Ulfiyah, menyebut bahwa delapan titik rawan kekeringan telah diidentifikasi di empat kecamatan, dengan total 6.824 jiwa yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih. Upaya yang dilakukan meliputi pembangunan sumur bor, distribusi air bersih darurat, serta program edukasi konservasi air.
BPBD Malang juga menyiapkan antisipasi kekeringan dengan meningkatkan pemantauan sumber daya air, memperkuat jaringan posko, dan menyiapkan tim respons cepat untuk kebakaran hutan yang berpotensi terjadi selama musim kering.
Ciri‑ciri Musim Kemarau 2026 dan Prediksi Puncaknya
BMKG mengidentifikasi bahwa sekitar 7 persen wilayah Indonesia (49 Zona Musim) telah memasuki fase kemarau pada awal April 2026. Ciri khas musim kemarau meliputi:
- Penurunan signifikan curah hujan.
- Dominasi angin monsun timur yang membawa massa udara kering dari Australia.
- Suhu siang hari meningkat, sementara suhu malam hari relatif lebih sejuk.
- Peningkatan intensitas penyinaran matahari dan berkurangnya tutupan awan.
- Kondisi tanah dan vegetasi menjadi kering, meningkatkan potensi kebakaran.
Puncak kemarau diproyeksikan terjadi pada Juli‑September 2026, dengan curah hujan berada pada titik terendah. Musim ini diperkirakan berada di bawah normal, menandakan tingkat kekeringan yang lebih tinggi daripada rata‑rata historis.
Pertanian di Tengah Kekeringan: Pilihan Tanaman Buah Mini
Untuk mengurangi tekanan pada ketahanan pangan, para petani dan pekebun disarankan menanam varietas buah mini yang cepat panen dan tahan terhadap kondisi kering. Berikut sepuluh jenis pohon buah mini yang cocok ditanam pada musim kemarau:
- Jambu biji kristal (Tabulampot) – berbuah 6‑8 bulan, cocok dalam pot.
- Stroberi mini – memerlukan sinar matahari tinggi, dapat diproduksi dalam pot atau bedengan kecil.
- Anggur mini – toleran terhadap suhu tinggi, menghasilkan buah manis.
- Markisa mini – akar dalam membantu penyerapan air, cocok di lahan gembur.
- Melon mini – siklus singkat, memerlukan irigasi ringan.
- Lemon kecil – tahan panas, meningkatkan keasaman tanah.
- Kurma mini – cocok pada tanah kering, buah manis dengan kandungan gula tinggi.
- Buah naga mini – tahan panas, dapat ditanam dalam pot.
- Tomat ceri – meski bukan buah, cepat panen dan cocok untuk pekarangan kecil.
- Belimbing mini – memerlukan sedikit air, menghasilkan buah aromatik.
Penanaman dalam pot atau polybag membantu mengontrol kelembapan tanah serta memudahkan pemindahan tanaman ke area yang lebih lembap bila diperlukan.
Strategi Antisipasi yang Direkomendasikan
Berikut rangkaian tindakan yang dapat diimplementasikan oleh pemerintah, lembaga, dan masyarakat untuk mengurangi dampak musim kemarau dan potensi El Nino:
- Monitoring iklim: Memanfaatkan sistem peringatan dini BMKG untuk mendeteksi perubahan pola hujan.
- Pengelolaan sumber daya air: Membangun sumur bor, memperbaiki jaringan irigasi, dan mempromosikan teknik konservasi air seperti penampungan air hujan.
- Pencegahan kebakaran: Menyulihkan lahan dengan penanaman kembali, mengatur pembakaran lahan terbuka, serta menyediakan alat pemadam kebakaran di daerah rawan.
- Edukasi masyarakat: Mengadakan pelatihan mitigasi bencana, penyuluhan tentang varietas tanaman tahan kering, dan kampanye hemat air.
- Kolaborasi lintas sektor: Mengintegrasikan upaya pemerintah daerah, lembaga keagamaan, organisasi non‑pemerintah, dan sektor swasta dalam perencanaan dan pelaksanaan program.
Dengan menggabungkan langkah‑langkah tersebut, diharapkan Indonesia dapat menahan goncangan musim kemarau 2026, melindungi ketahanan pangan, serta mengurangi risiko kebakaran dan krisis air bersih.
Upaya bersama ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan proaktif, pemanfaatan data iklim, dan inovasi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim. Kesiapsiagaan yang terkoordinasi antara lembaga pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat luas menjadi kunci utama untuk menghadapi tantangan musim kemarau dan El Nino yang semakin intens.











