Keuangan.id – 24 April 2026 | Jumat malam, langit Lampung dan Banten disinari cahaya terang yang menimbulkan kepanikan dan spekulasi di kalangan warga. Awalnya, fenomena ini dipersepsikan sebagai bagian dari hujan meteor Lyrid yang biasanya muncul pada pertengahan April. Namun, setelah serangkaian penyelidikan intensif, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan temuan penting: kilatan tersebut berasal dari sisa roket China yang meluncur pada awal bulan ini.
Penelusuran Awal dan Kecurigaan
Setelah laporan warga menyebar luas melalui media sosial, tim observasi astronomi lokal melakukan pemantauan visual dan rekaman video. Pola gerakan cahaya yang tidak konsisten dengan lintasan meteor tradisional menimbulkan pertanyaan. Sementara meteor Lyrid biasanya meluncur cepat dengan jejak asap tipis, kilatan yang terlihat bergerak lambat, berubah warna, dan kadang menghilang secara tiba‑tiba menandakan sumber buatan.
Investigasi BRIN
BRIN mengerahkan tim gabungan yang terdiri dari ahli astrofisika, insinyur aeronautika, dan analis data satelit. Menggunakan citra radar, sensor inframerah, serta data peluncuran luar angkasa, tim berhasil melacak jejak debris yang masuk atmosfer pada 20 April 2026. Jejak tersebut cocok dengan sisa roket Long March 5B milik China, yang diketahui gagal mengendalikan bagian pertama setelah peluncuran dari zona lepas pantai selatan China.
Menurut Dr. Anisa Rahma, kepala Divisi Observasi Luar Angkasa BRIN, “Debris roket berukuran antara 1 hingga 3 meter masuk ke lapisan mesosphere dan terbakar sebagian, menghasilkan kilatan yang lebih lama dan lebih terang dibandingkan meteor biasa.” Ia menambahkan bahwa suhu pembakaran debris mencapai lebih dari 2.000 derajat Celsius, menghasilkan efek “fireball” yang mirip dengan meteor Lyrid, namun dengan intensitas energi yang berbeda.
Perbandingan dengan Hujan Meteor Lyrid
Hujan meteor Lyrid, yang berasal dari sisa komet Thatcher, memang menghasilkan fireball berwarna putih keoranye. Namun, karakteristik utama Lyrid meliputi:
- Kecepatan rata‑rata sekitar 47 km/detik.
- Durasi tampilan 3–5 detik per meteoroid.
- Intensitas maksimal sekitar 18 meteor per jam.
Data rekaman video dari warga menunjukkan kecepatan kilatan di Lampung‑Banten lebih lambat, dengan durasi tampilan hingga 8 detik dan pola gerak tidak searah dengan radiasi meteorit. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa fenomena tersebut bukan bagian dari Lyrid.
Respons Pemerintah dan Komunitas
Pemerintah daerah setempat mengeluarkan peringatan untuk menghindari menatap langsung cahaya yang sangat terang, mengingat potensi bahaya radiasi termal. Sementara itu, komunitas astronomi amatir, termasuk Marufin Sudibyo, mengakui bahwa penjelasan BRIN menambah pemahaman publik tentang perbedaan antara fenomena alam dan buatan manusia.
Marufin menuturkan, “Kami memang menyiapkan panduan melihat Lyrid, namun kali ini jelas ada faktor eksternal yang mempengaruhi atmosfer. Penjelasan ilmiah dari BRIN membantu mengklarifikasi kebingungan yang muncul di media.”
Dampak terhadap Kesadaran Publik
Kasus ini memperlihatkan betapa pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam mengidentifikasi fenomena langit yang tidak biasa. Selain menambah literasi sains, temuan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang regulasi peluncuran roket luar angkasa dan mitigasi debris di ruang angkasa.
BRIN menyarankan peningkatan monitoring satelit khusus untuk melacak debris yang berpotensi masuk atmosfer Indonesia, serta kerja sama internasional untuk mengurangi sampah antariksa. Upaya ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa yang menimbulkan kepanikan publik.
Dengan klarifikasi resmi ini, warga Lampung dan Banten kini dapat memahami bahwa kilatan roket China yang terbakar di atmosfer menjadi penyebab utama cahaya misterius pada malam 23 April. Penelitian lanjutan akan terus dipublikasikan untuk memastikan keamanan dan ketertiban ruang angkasa Indonesia.











