Berita  

Mengenal Dunia Penjaga Perlintasan Liar: Kisah Anak Kampung yang Besar di Pinggir Rel

Mengenal Dunia Penjaga Perlintasan Liar: Kisah Anak Kampung yang Besar di Pinggir Rel
Mengenal Dunia Penjaga Perlintasan Liar: Kisah Anak Kampung yang Besar di Pinggir Rel

Keuangan.id – 12 Mei 2026 | Tragedi kecelakaan maut yang melibatkan kereta api jarak jauh, KRL, dan sebuah taksi listrik di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 lalu, menyisakan luka mendalam sekaligus tanda tanya besar mengenai keamanan perlintasan sebidang.

Di balik risiko tinggi yang mengintai nyawa, muncul sebuah realitas sosial di mana menjaga perlintasan kereta api liar menjadi “profesi” turun-temurun bagi warga yang tinggal di bantarannya.

Sistem Organisasi Informal

Al atau yang kerap disapa Bang Al (31), seorang warga yang menghabiskan 15 tahun hidupnya menjaga perlintasan liar di Jawa Barat, menceritakan bagaimana ia dan anak-anak sebayanya tumbuh bersama deru mesin kereta.

Baginya, menjaga palang pintu bukan sekadar membantu kelancaran lalu lintas, melainkan cara untuk bertahan hidup sejak usia sekolah.

Menariknya, pengelolaan perlintasan liar ternyata memiliki struktur organisasi informal yang cukup rapi.

Al menjelaskan, ada sistem pembagian jadwal atau sift yang melibatkan belasan orang.

Bagi para pemula atau anak-anak yang baru bergabung, mereka harus melewati fase yang disebut dengan istilah “ngadal”.

Fase Ngadal dan Regenerasi Penjaga

Fase “ngadal” ini diibaratkan sebagai masa magang.

Para “pengadal” ini akan mengisi kekosongan waktu saat penjaga utama beristirahat.

Melalui proses inilah, regenerasi penjaga perlintasan liar terus berlanjut di kampung-kampung pinggir rel.

Keahlian Otodidak di Balik Bahaya Meskipun bekerja di lingkungan dengan risiko nyawa yang sangat besar, para penjaga ini tidak pernah mendapatkan pelatihan resmi dari otoritas terkait.

Bang Al mengaku mendapatkan kemampuannya secara otodidak hanya dengan mengamati lingkungan sekitar yang sudah menjadi tempat bermainnya sehari-hari.

Para penjaga ini bekerja secara otodidak tanpa pelatihan resmi, menjadikan aktivitas tersebut sebagai mata pencaharian turun-temurun warga setempat.

Di saat yang sama, masyarakat sekitar juga harus menyadari pentingnya keamanan perlintasan sebidang dan memperhatikan aktivitas penjaga perlintasan liar.

Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa menjaga perlintasan kereta api liar bukan hanya sekedar pekerjaan, melainkan juga sebuah tradisi dan cara hidup bagi masyarakat sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *