Keuangan.id – 10 April 2026 | Balai Kota Melbourne mengumumkan langkah tegas untuk menekan kerusakan akibat graffiti dengan menuntut pelaku membayar biaya pembersihan. Kebijakan ini muncul di tengah tekanan finansial kota yang menghabiskan sekitar satu juta dolar setiap tahunnya untuk memperbaiki kerusakan kriminal, serta dinamika pasar perumahan yang menunjukkan pergeseran pembeli menuju daerah yang lebih terjangkau.
Penindakan terhadap Graffiti: Dari CCTV ke Gugatan Sipil
Walikota Nick Reece menegaskan bahwa kota akan menggunakan jaringan kamera CCTV yang kini dilengkapi teknologi pengenalan gambar untuk mengidentifikasi pelaku graffiti. Tagger ternama seperti “Yomp”, “Q Bee”, dan “Bruege” berada dalam sorotan utama. Menurut dokumen internal dewan, Yomp telah melakukan 34 tanda dengan perkiraan kerugian Rp 4.920.000, sedangkan Bruege tercatat menambah 1.712 tanda yang menelan biaya Rp 177.885.000.
Kasus paling menonjol melibatkan seorang pelaku yang dikenal sebagai “Pam the Bird”. Polisi Victoria menuduhnya menyebabkan kerusakan senilai sekitar Rp 700.000.000 melalui gambar kartun berulang di seluruh kota. Meskipun terdakwa belum bersidang, dewan telah menyiapkan permohonan perintah kompensasi dalam proses hukum yang sedang berjalan.
Biaya menuntut secara sipil diperkirakan antara Rp 10.000.000 hingga Rp 100.000.000 per kasus. Dewan menegaskan bahwa tindakan ini akan diambil secara selektif, mengingat proses tersebut membutuhkan bukti kuat dari rekaman kamera atau saksi.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Pengeluaran tahunan Melbourne untuk memperbaiki kerusakan graffiti mencapai sekitar Rp 1 miliar. Penggunaan dana publik untuk membersihkan tagger menimbulkan pertanyaan tentang efisiensi alokasi sumber daya. Pakar grafiti dari Universitas Swinburne, Dr. Stephen Glackin, mengingatkan bahwa meski penegakan hukum dapat menjadi deterrent, proses peradilan seringkali berakhir dengan hukuman ringan, sehingga biaya yang dikeluarkan tidak selalu sebanding dengan manfaat yang dirasakan.
Di sisi lain, pasar properti Melbourne menunjukkan dinamika yang berlawanan. Laporan terbaru mengindikasikan penurunan minat pada segmen rumah mewah, sementara pembeli beralih ke pinggiran kota dengan harga yang masih naik tajam, mencapai enam digit dalam satuan rupiah. Kenaikan suku bunga, ketegangan global, dan peningkatan pasokan properti baru menjadi faktor utama yang menekan harga rumah kelas atas.
Strategi Pemerintah Kota
- Mengoptimalkan jaringan CCTV untuk identifikasi cepat pelaku graffiti.
- Mengajukan gugatan sipil pada pelaku yang terbukti, dengan tujuan memperoleh kompensasi biaya pembersihan.
- Berkoordinasi dengan Polisi Victoria untuk memperkuat proses hukum kriminal.
- Mengalokasikan dana yang diperoleh dari kompensasi untuk program revitalisasi ruang publik.
Walikota Reece menegaskan, “Jika Anda menyemprot, Anda akan membayar.” Pernyataan ini mencerminkan komitmen administratif untuk menurunkan angka graffiti, sekaligus mengirim sinyal bahwa pelanggaran estetika publik tidak dapat dibiarkan tanpa konsekuensi finansial.
Meski kebijakan ini mendapat pujian dari sebagian warga yang lelah melihat dinding kota berwarna-warni tanpa izin, kritik muncul terkait potensi beban hukum pada kelompok yang kurang mampu. Pemerintah kota berjanji akan meninjau setiap kasus secara individual, memastikan bahwa proses hukum tidak menimbulkan ketidakadilan sosial.
Dengan kombinasi penindakan keras terhadap vandalisme dan adaptasi strategi pasar perumahan, Melbourne berharap dapat menyeimbangkan estetika kota, keamanan publik, serta stabilitas ekonomi jangka panjang.
