Keuangan.id – 18 April 2026 | Istilah pintar kini tidak lagi terbatas pada kecerdasan akademik semata; ia meluas ke bidang pendidikan, teknologi, kebijakan publik, bahkan dunia bisnis. Dalam beberapa minggu terakhir, sejumlah inisiatif dan peristiwa menyoroti bagaimana konsep pintar diaplikasikan maupun dipertanyakan di Indonesia.
Program Mobil Pintar Askrindo Membuka Akses Belajar di Daerah Terpencil
PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) meluncurkan program Mobil Pintar (MoPi) di Kabupaten Sarolangun, Jambi, serta di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Kendaraan berteknologi ini dilengkapi perpustakaan bergerak, peralatan belajar interaktif, serta materi pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan literasi membaca, menulis, dan berhitung anak usia dini.
Penyerahan mobil dilakukan langsung oleh Direktur Keuangan Askrindo, Leonardo Henry Gavaza, bersama Bupati masing‑masing kabupaten. Dalam sambutannya, Leonardo menekankan bahwa program ini merupakan wujud nyata tanggung jawab sosial perusahaan (TJSL) dalam memperkecil kesenjangan akses pendidikan, terutama di wilayah yang sulit dijangkau oleh fasilitas sekolah konvensional.
- Mobil dilengkapi ruang kelas mini, komputer, dan tablet yang dapat dioperasikan secara offline.
- Guru lokal dan orang tua diajak mengikuti pelatihan penggunaan materi digital untuk meningkatkan efektivitas pengajaran.
- Jadwal kunjungan MoPi diatur secara rotasi sehingga setiap desa mendapatkan layanan setidaknya satu kali dalam sebulan.
Menurut data internal Askrindo, lebih dari 5.000 anak telah mengikuti sesi belajar melalui MoPi sejak peluncurannya pada awal April 2026, dengan peningkatan signifikan pada nilai tes dasar membaca dan berhitung.
KPK Ungkap Potensi Korupsi dalam Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP‑K)
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeluarkan laporan yang menyoroti sejumlah celah dalam program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP‑K). Dari 16 perguruan tinggi swasta yang menjadi sampel, 11 institusi (68,75%) ditemukan memiliki potensi konflik kepentingan, di mana penerima kuota terkait erat dengan pejabat publik atau entitas politik.
Laporan juga mengidentifikasi masalah keamanan pada aplikasi Sistem Informasi Manajemen KIP‑K (SIM KIP‑K). Celah yang paling kritis memungkinkan admin kampus masuk ke akun mahasiswa, memudahkan praktik pungutan atau pemotongan dana secara tidak sah. Selain itu, satu akun dapat diakses bersamaan pada beberapa perangkat, menghilangkan kontrol atas penggunaan yang sah.
KPK merekomendasikan perbaikan meliputi:
- Penguatan verifikasi data penerima kuota dengan prosedur standar nasional.
- Pembatasan hak akses admin kampus hanya pada fungsi administratif yang tidak melibatkan data keuangan mahasiswa.
- Penerapan audit internal berkala serta pemantauan independen oleh lembaga eksternal.
- Transparansi alokasi kuota kepada institusi yang tidak memiliki ikatan politik.
- Peningkatan anggaran untuk kunjungan lapangan verifikasi di perguruan tinggi.
Temuan ini menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap program sosial yang berbasis teknologi, agar manfaatnya tidak disalahgunakan.
Jerome Polin dan Kontroversi Kecerdasan Matematika vs. Kecerdasan Bisnis
Popularitas kreator konten matematika, Jerome Polin, kembali menjadi sorotan setelah ia menanggapi sindiran bahwa “pintar matematika tidak berarti pintar bisnis”. Jerome, yang dikenal lewat video pembelajaran dan kompetisi internasional, mengungkap bahwa kegagalan bisnisnya, Menantea, lebih dipicu oleh faktor eksternal seperti penipuan dan kurangnya pengawasan internal, bukan sekadar kesalahan perhitungan.
Dalam unggahan media sosialnya, Jerome menegaskan bahwa kecerdasan akademik memang penting, namun keberhasilan usaha memerlukan kompetensi lain seperti manajemen risiko, kepatuhan regulasi, serta kemampuan bernegosiasi dengan mitra. Ia menambahkan bahwa Menantea mengalami kerugian sekitar Rp 38 miliar akibat praktik kecurangan oleh beberapa mitra franchise, serta masalah keuangan seperti tagihan supplier yang menunggak dan laporan pajak yang tidak akurat.
Jerome juga menyoroti pentingnya audit internal yang rutin dan sistem pengendalian internal yang kuat, yang seharusnya menjadi standar bagi setiap usaha, termasuk yang dijalankan oleh generasi muda berpendidikan tinggi.
Implikasi dan Langkah Kedepan
Berbagai peristiwa ini menunjukkan bahwa konsep pintar harus diiringi dengan mekanisme pengawasan, transparansi, dan penyesuaian kebijakan. Program Mobil Pintar Askrindo memberikan contoh bagaimana teknologi dapat menjembatani kesenjangan pendidikan, namun keberhasilannya tetap tergantung pada dukungan komunitas dan pelatihan berkelanjutan.
Sementara itu, temuan KPK pada KIP‑K menuntut reformasi struktural pada sistem alokasi beasiswa, agar tidak menjadi sarana korupsi. Di sisi lain, pengalaman Jerome Polin mengingatkan bahwa kecerdasan akademik saja tidak cukup untuk mengelola bisnis; keahlian manajerial dan kontrol internal menjadi faktor penentu keberlanjutan.
Dengan sinergi antara inovasi, regulasi yang ketat, dan edukasi menyeluruh, harapan akan generasi yang lebih pintar dalam segala bidang dapat terwujud secara lebih adil dan berkelanjutan.
