Lo Kheng Hong Ungkap Strategi Saham Murah Saat IHSG Tembus 7.000, Peluang Emas Bagi Investor

Lo Kheng Hong Ungkap Strategi Saham Murah Saat IHSG Tembus 7.000, Peluang Emas Bagi Investor
Lo Kheng Hong Ungkap Strategi Saham Murah Saat IHSG Tembus 7.000, Peluang Emas Bagi Investor

Keuangan.id – 03 Mei 2026 | Pasar saham Indonesia kembali menjadi sorotan utama setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level 7.000. Lonjakan tersebut menandai momentum positif bagi para pelaku pasar, terutama bagi mereka yang mencari saham dengan valuasi terjangkau. Di tengah dinamika ini, analis ternama Lo Kheng Hong memberikan pandangan mendalam mengenai peluang akumulasi saham murah dan strategi yang dapat diadopsi oleh investor ritel maupun institusi.

Lo Kheng Hong: Mengurai Kondisi Pasar Saat Ini

Lo Kheng Hong menekankan bahwa penembusan IHSG ke level 7.000 bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan dari perbaikan fundamental ekonomi makro dan sentimen positif yang mengalir dari kebijakan moneter yang lebih longgar. Menurutnya, likuiditas yang mengalir ke pasar modal selama beberapa bulan terakhir memperkuat daya beli investor, sehingga tercipta ruang bagi saham-saham dengan Price to Book Value (PBV) rendah untuk menunjukkan performa yang mengesankan.

Data terkini menunjukkan beberapa emiten mencatat kenaikan laba bersih hingga 122% dengan PBV hanya 0,14. Kondisi ini menandakan adanya kesenjangan antara valuasi pasar dan nilai buku perusahaan, membuka peluang akumulasi bagi investor yang mampu mengidentifikasi sekuritas undervalued.

Strategi Lo Kheng Hong untuk Mengakumulasi Saham Murah

Dalam rangka memanfaatkan peluang ini, Lo Kheng Hong menyarankan tiga langkah kunci:

  1. Screening Emiten dengan PBV di Bawah 0,2: Saham-saham dengan PBV sangat rendah biasanya mencerminkan harga pasar yang belum mencerminkan nilai aset bersih perusahaan.
  2. Analisis Laba Bersih dan Pertumbuhan Pendapatan: Pilih emiten yang menunjukkan pertumbuhan laba bersih signifikan, seperti kenaikan 100% atau lebih, yang menandakan efisiensi operasional dan potensi ekspansi.
  3. Perhatikan Rasio Harga terhadap Earnings (PER) dan Yield Dividen: Kombinasi PER rendah dengan dividend yield yang menarik dapat menjadi indikator kuat bahwa saham tersebut undervalued dan memberikan aliran kas tambahan bagi pemegang saham.

Selain itu, Lo Kheng Hong menekankan pentingnya diversifikasi portofolio. Ia menyarankan agar investor tidak menumpuk seluruh dana pada satu sektor, melainkan menyebar ke berbagai industri yang memiliki prospek pertumbuhan jangka menengah, seperti teknologi, infrastruktur, dan konsumer domestik.

Implikasi Bagi Investor Ritel dan Institusi

Bagi investor ritel, peluang akumulasi saham murah di tengah IHSG yang menguat dapat menjadi titik masuk yang optimal. Dengan modal terbatas, pendekatan “buy and hold” pada saham-saham dengan fundamental kuat dapat menghasilkan total return yang memuaskan dalam jangka panjang.

Investor institusi, di sisi lain, dapat memanfaatkan alokasi dana yang lebih besar untuk melakukan rebalancing portofolio. Mengalihkan sebagian alokasi ke saham-saham dengan PBV rendah dan laba bersih yang melonjak dapat meningkatkan rasio Sharpe portofolio secara keseluruhan.

Lo Kheng Hong menutup dengan catatan optimis: “Jika IHSG dapat tetap berada di atas 7.000 selama beberapa minggu ke depan, kami memperkirakan akan ada aliran tambahan modal asing yang mencari imbal hasil lebih tinggi dibanding pasar maju. Hal ini akan memperkuat likuiditas dan membuka lebih banyak ruang bagi saham-saham undervalued untuk menguat.”

Investor diharapkan terus memantau data fundamental serta perkembangan kebijakan moneter untuk menyesuaikan strategi investasi mereka. Dengan pendekatan yang terukur dan disiplin, peluang akumulasi saham murah dapat menjadi katalisator pertumbuhan kekayaan jangka panjang.

Exit mobile version