Keuangan.id – 09 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Aktris Laura Basuki kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkap proses intens yang ia jalani untuk memerankan biarawati muda dalam film “Yohanna”. Film yang disutradarai Razka Robby Ertanto ini mengisahkan misi kemanusiaan pascabencana di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Untuk menampilkan karakter yang autentik, Laura tidak hanya mengandalkan akting, melainkan juga menguasai serangkaian keterampilan baru, mulai dari bermain gitar hingga menunggang kuda dan mengemudi pick‑up di medan berbukit.
Belajar gitar demi adegan musik
Karakter Yohanna memiliki adegan mengiringi penyanyi Iqua Tahlequa dengan gitar akustik. \”Aku tidak mau tampil palsu, hanya menggaruk‑garuk saja. Kalau ketahuan oleh mereka yang memang bermain gitar, penampilan ku akan terasa tidak profesional,\” ungkap Laura dalam wawancara eksklusif. Karena belum memiliki dasar bermain gitar, aktris berzodiak Capricorn tersebut mengikuti kursus intensif selama empat minggu. Ia mempelajari chord dasar, teknik strumming, serta cara menyelaraskan ritme dengan vokal. \”Suara Iqua sangat kuat, jadi aku harus memastikan gitar ku tidak menjadi gangguan,\” tambahnya.
Workshop menunggang kuda dan mengemudi pick‑up
Selain musik, film “Yohanna” menuntut Laura untuk menampilkan adegan menunggang kuda di padang rumput Sumba serta mengemudi mobil pick‑up melewati jalan berbatu dan tebing curam. Untuk itu, produser mengadakan workshop khusus bersama instruktur setempat. \”Latihan naik kuda di Sumba sangat menantang karena kuda yang kami gunakan memiliki kebiasaan yang berbeda dibandingkan kuda di kota,\” kata Laura. Selama sesi pertama, ia berhasil mengendalikan kuda lokal, namun pada hari syuting tiba, kuda yang terlatih tidak tersedia. Akhirnya, ia harus berhadapan dengan kuda asing yang hampir menendangnya. Beruntung, warga setempat yang terbiasa menangani kuda membantu menstabilkan situasi sehingga pengambilan gambar tetap aman.
Untuk mengemudi pick‑up, Laura belajar memindahkan gigi secara manual di medan berbukit. \”Saya sudah biasa mengemudi manual, tapi kondisi jalan di Sumba memaksa saya belajar menyesuaikan kecepatan dan menghindari jurang,\” jelasnya. Latihan singkat tersebut memberi Laura kepercayaan diri untuk mengendalikan kendaraan berat di lokasi syuting.
Berinteraksi dengan anak‑anak Sumba
Film “Yohanna” juga melibatkan anak‑anak Sumba sebagai pemeran tambahan. Laura menyatakan bahwa membangun kepercayaan dengan mereka menjadi tantangan tersendiri. Ia menggunakan taktik sederhana: memberi permen dan cokelat agar anak‑anak tidak merasa takut. \”Awalnya mereka menatapku dengan curiga, seolah‑olah mereka berpikir aku aktor profesional yang harus memimpin mereka,\” kata Laura. Dengan pendekatan yang bersahabat, ia berhasil menciptakan suasana akting yang natural dan tidak dipaksakan.
Pengalaman yang membekas
Seluruh proses persiapan meninggalkan kesan mendalam bagi Laura Basuki. \”Setiap langkah – dari memetik senar gitar, menunggang kuda, hingga mengemudi pick‑up – memberi saya perspektif baru tentang apa arti dedikasi dalam berakting,\” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan penduduk lokal, terutama dalam mengatasi kendala kuda asing, mengajarkannya nilai kebersamaan dan rasa hormat terhadap budaya setempat.
Film “Yohanna” dijadwalkan tayang pada akhir tahun ini dan diharapkan menjadi sorotan utama festival film Asia Tenggara. Penampilan Laura Basuki yang kini didukung oleh keahlian nyata di atas panggung dan lapangan diyakini akan menambah kedalaman karakter Yohanna, sekaligus menginspirasi aktor lain untuk menempuh proses belajar intensif demi peran mereka.
Secara keseluruhan, kisah di balik layar Laura Basuki memperlihatkan bahwa komitmen seorang aktor tidak hanya terletak pada naskah, melainkan juga pada upaya fisik dan emosional untuk menghidupkan karakter secara otentik. Penonton dapat menantikan penampilan yang menyentuh hati, sekaligus menilai bagaimana proses pembelajaran yang ekstrem dapat menghasilkan karya sinematik yang kuat.











