Keuangan.id – 27 April 2026 | Kredit properti menunjukkan tren positif pada bulan Maret 2026, meskipun kredit pemilikan rumah (KPR) mengalami penurunan. Data terbaru mengindikasikan peningkatan permintaan properti yang masih kuat, namun pasar kredit konsumen secara umum menunjukkan tanda lesu.
Data utama Maret 2026
| Indikator | Nilai | Perubahan YoY |
|---|---|---|
| Kredit Properti | Rp 125 triliun | +2,3% |
| KPR | Rp 78 triliun | -1,5% |
| Kredit Konsumsi Lainnya | Rp 45 triliun | -3,0% |
Lonjakan kredit properti dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga yang masih relatif rendah serta program pemerintah yang mendukung kepemilikan rumah pertama. Sementara itu, penurunan KPR disebabkan oleh ketatnya kriteria kredit, inflasi yang meningkat, dan kekhawatiran konsumen terhadap kemampuan membayar cicilan.
Dampak terhadap daya beli masyarakat
- Penurunan KPR dapat menurunkan jumlah transaksi jual beli rumah baru.
- Permintaan sewa properti diperkirakan akan meningkat sebagai alternatif.
- Pengembang properti mungkin menyesuaikan strategi penjualan, termasuk menawarkan skema pembayaran lebih fleksibel.
Secara keseluruhan, meskipun kredit properti tetap tumbuh, melambatnya KPR menjadi sinyal bahwa pasar properti harus menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi yang lebih menantang. Pengamat memperkirakan bahwa pertumbuhan kredit properti akan tetap moderat selama kuartal berikutnya, tergantung pada kebijakan moneter dan stabilitas inflasi.
