Keuangan.id – 05 April 2026 | Bank Indonesia melaporkan bahwa pada Februari 2026 pertumbuhan kredit konsumsi mengalami perlambatan, meski berada di periode Ramadan. Kredit konsumsi hanya tumbuh sekitar 1,5% dibandingkan kenaikan 3,2% pada Januari, menandakan penurunan yang cukup tajam.
Penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor utama:
- Berkurangnya aktivitas belanja selama bulan puasa, ketika konsumen cenderung menahan pengeluaran non-esensial.
- Inflasi yang masih tinggi, yang menurunkan daya beli dan membuat rumah tangga enggan menambah utang.
- Kebijakan moneter yang ketat, dengan suku bunga acuan tetap berada pada level yang relatif tinggi.
Akibatnya, rumah tangga menunjukkan sikap lebih berhati-hati dalam mengambil pinjaman, baik untuk kebutuhan konsumsi harian maupun pembiayaan barang tahan lama. Penurunan kredit konsumsi juga berpotensi menekan pertumbuhan sektor ritel dan layanan yang sangat bergantung pada pembiayaan kredit.
Para analis memperkirakan bahwa jika tren ini berlanjut, tekanan pada daya beli rumah tangga dapat berlanjut hingga kuartal berikutnya, terutama jika inflasi tidak berkurang secara signifikan. Namun, jika kebijakan moneter mulai melonggarkan dan pasokan barang kembali stabil, kredit konsumsi dapat kembali menguat menjelang akhir tahun.











