Keuangan.id – 28 April 2026 | Elena Rybakina kembali menjadi sorotan utama WTA setelah serangkaian peristiwa dramatis di Madrid Open 2026. Dari sengketa poin yang dianggap “dicuri” oleh sistem garis elektronik hingga kekalahan tak terduga melawan Anastasia Potapova, semua berujung pada pertaruhan besar bagi harapannya menyalip Aryna Sabalenka menjadi nomor satu dunia.
Garis Elektronik: Sistem yang Menyulut Amukan
Pertandingan ketiga putaran melawan Qinwen Zheng memperlihatkan ketegangan tak terduga. Pada set kedua, saat Zheng melayani dengan ace pada skor 3-4 30-0, sistem elektronik menandai bola masuk, padahal jejak pada tanah liat jelas menunjukkan bola keluar. Rybakina langsung menghampiri wasit Julie Kjendlie, menuntut pemeriksaan fisik pada jejak tanah. “Sistem ini salah, ini bukan lelucon,” ujar Rybakina dengan nada tegas.
Wasit menegaskan bahwa aturan baru tidak mengizinkan mereka menurunkan keputusan teknologi. “Dengan adanya ELC live, itulah yang harus saya ikuti,” balasnya. Meskipun Rybakina berhasil membalikkan set pertama yang kalah menjadi kemenangan 4-6 6-4 6-3, kekecewaan atas keputusan tersebut tetap menggelayuti suasana hatinya.
Kekalahan Mengejutkan di Putaran Keempat
Setelah mengatasi sengketa, Rybakina melaju ke babak kedelapan melawan Anastasia Potapova, pemain peringkat 56 yang masuk sebagai lucky loser. Potapova, yang sebelumnya mengalahkan Jelena Ostapenko dan Zhang Shuai, menampilkan tenis agresif dan berhasil menumpas Rybakina dengan skor 7-6(8) 6-4.
Rybakina sempat mendekati set pertama dengan poin set di tiebreak, namun Potapova menahan tekanan dan memanfaatkan peluang pada poin-poin krusial. Kemenangan Potapova tidak hanya menjadi kejutan, tetapi juga menambah jarak poin antara Rybakina (8.555) dan pemimpin klasemen Aryna Sabalenka (10.110), yang masih mempertahankan 1.000 poin dari gelar juara tahun sebelumnya.
Dampak pada Pengejaran Peringkat No.1
Sebelum turnamen, Rybakina berada hanya 2.395 poin di belakang Sabalenka. Dengan hasil di Madrid, selisih tersebut meluas menjadi hampir 1.600 poin. Sabalenka, yang berhasil menembus perempat final, menambah 215 poin, sementara Rybakina hanya menambah 55 poin dari kemenangan ketiga putaran.
Para analis menilai bahwa kegagalan di Madrid menurunkan peluang Rybakina untuk merebut posisi teratas dalam waktu dekat, terutama mengingat Sabalenka akan melanjutkan kampanye di turnamen-turnamen besar berikutnya.
Rekor Musim 2026 yang Mengesankan
Di balik kekecewaan tersebut, Rybakina tetap memegang rekor impresif pada tahun 2026. Dengan 27 kemenangan di enam turnamen, ia melampaui rekor Jannik Sinner yang hanya 26 kemenangan pada periode yang sama. Statistik 27-5 menunjukkan dominasi yang konsisten, meski ada beberapa kekalahan tak terduga dari pemain berperingkat lebih rendah seperti Karolina Muchova, Victoria Mboko, dan Antonia Ruzic.
Rekor ini menegaskan posisi Rybakina sebagai salah satu pemain paling produktif di WTA, sekaligus menambah beban mental untuk mengatasi tantangan teknis dan kompetitif yang muncul.
Respons dan Harapan Kedepan
Rybakina menyatakan tidak akan mempercayai sistem garis elektronik lagi sampai ada revisi yang lebih transparan. Ia menekankan pentingnya keadilan dalam keputusan lapangan, terutama pada permukaan tanah liat yang memberikan jejak fisik jelas.
Para pemain lain, termasuk Alexander Zverev di tour pria, juga mengkritik sistem serupa, menandakan kemungkinan perubahan regulasi pada musim mendatang. Sementara itu, Rybakina berjanji akan fokus pada perbaikan teknis dan mental, menyiapkan diri untuk turnamen berikutnya seperti French Open.
Dengan kombinasi prestasi luar biasa dan tantangan kontroversial, perjalanan Elena Rybakina di 2026 menjadi sorotan utama tenis wanita, menunggu keputusan apakah ia dapat kembali menutup celah peringkat dan mengukuhkan dominasinya di panggung global.
