Kisah Mantri BRI di Lombok Dorong Ekonomi Petani

Kisah Mantri BRI di Lombok Dorong Ekonomi Petani
Kisah Mantri BRI di Lombok Dorong Ekonomi Petani

Keuangan.id – 17 April 2026 | Di Kabupaten Lombok, peran seorang Mantri BRI bernama Sri Malasarin telah menjadi katalisator penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani lokal. Dengan memadukan layanan perbankan, pendampingan usaha, dan jaringan pasar, ia berhasil membuka akses modal bagi para petani yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pembiayaan formal.

Sejak bergabung dengan BRI pada tahun 2018, Sri Malasarin memfokuskan kegiatan di desa-desa agraris, terutama pada komoditas padi, jagung, dan sayuran organik. Langkah pertama yang ia lakukan adalah melakukan survei kebutuhan modal dan mengidentifikasi usaha yang memiliki potensi pertumbuhan.

  • Pembiayaan mikro: Menawarkan kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga kompetitif, serta skema cicilan yang disesuaikan dengan musim panen.
  • Pendampingan teknis: Mengadakan pelatihan manajemen keuangan, teknik pertanian ramah lingkungan, dan pengemasan produk.
  • Pengembangan pasar: Membantu petani bergabung dalam koperasi BRI, sehingga produk dapat dipasarkan melalui jaringan distribusi BRI di pulau lain.

Hasilnya, pada akhir 2023 tercatat peningkatan produktivitas rata‑rata sebesar 27 % dan pendapatan petani naik rata‑rata 35 % dibandingkan tahun sebelumnya. Berikut data ringkas yang diperoleh dari laporan internal BRI:

Indikator 2022 2023
Petani yang menerima kredit 120 orang 185 orang
Rata‑rata volume produksi (ton) 8,2 10,4
Pendapatan rata‑rata per petani (juta Rp) 45 61

Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi antara BRI, pemerintah daerah, dan lembaga swadaya masyarakat yang menyediakan pelatihan tambahan. Sri Malasarin menekankan pentingnya edukasi finansial agar petani dapat mengelola pinjaman secara bertanggung jawab dan menginvestasikan kembali hasil produksi ke dalam inovasi pertanian.

Ke depan, rencana pengembangan mencakup pembentukan pusat agribisnis di Lombok Barat yang akan memfasilitasi proses pengolahan hasil tani menjadi produk bernilai tambah, seperti tepung kacang dan minyak kelapa. Dengan dukungan modal yang berkelanjutan dan jaringan pemasaran yang lebih luas, diharapkan petani Lombok dapat meningkatkan kemandirian ekonomi serta mengurangi ketergantungan pada perantara.

Kasus Sri Malasarin menjadi contoh nyata bagaimana peran perbankan di tingkat desa dapat memperkuat ekonomi lokal, sekaligus mendukung agenda pertanian berkelanjutan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *