Keuangan.id – 07 April 2026 | Ketegangan di Selat Hormuz yang memuncak sejak akhir Februari 2026 kini menunjukkan perubahan paradigma dalam navigasi internasional. Iran, yang menerapkan sistem “Selective Access”, mulai melonggarkan blokade dengan memberikan izin lintas kepada kapal-kapal dari sejumlah negara sahabat atau netral, termasuk Prancis, Oman, dan Jepang. Keputusan ini tidak hanya menandai langkah diplomatik penting, tetapi juga menimbulkan konsekuensi ekonomi yang signifikan bagi pasar energi dunia.
Selektifitas Akses: Kebijakan Iran di Selat Hormuz
Sejak Februari 2026, Iran menutup jalur utama selat dengan mengedepankan mekanisme “Selective Access”. Kebijakan tersebut mengharuskan setiap kapal yang ingin melintasi harus memperoleh persetujuan diplomatik khusus, sekaligus mematuhi protokol ketat yang ditetapkan oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Negara-negara yang dianggap “sahabat” atau netral, seperti Rusia, China, Irak, dan Malaysia, memperoleh akses penuh sejak awal penerapan kebijakan ini. Pada awal April 2026, tiga negara tambahan berhasil menembus blokade: Prancis, Jepang, dan Filipina, sementara Turki juga berada di jalur persetujuan.
Peran Oman sebagai Mediator dan Jalur Alternatif
Oman memegang posisi strategis sebagai mediator antara Tehran dan negara-negara lain. Pada 4 April 2026, perwakilan tingkat wakil menteri Oman dan Iran menandatangani kesepakatan teknis yang memungkinkan kapal-kapal Oman menggunakan “Koridor Omani”—rute yang lebih dekat dengan pantai Oman untuk menghindari zona konflik utama. Kesepakatan ini tidak hanya meningkatkan keamanan navigasi, tetapi juga menurunkan biaya transit karena Iran membebaskan toll fee bagi kapal Omani.
Kapal Prancis dan Jepang: Negosiasi Bilateral yang Berbuah Izin
Negara-negara Barat seperti Prancis dan Jepang berhasil mendapatkan lampu hijau berkat intensifnya lobi diplomatik. Kedua negara mengandalkan hubungan perdagangan energi yang kuat dengan Iran, serta kesediaan mereka untuk mematuhi prosedur inspeksi dan pelaporan real‑time yang diwajibkan oleh otoritas Iran. Izin tersebut memungkinkan tanker berbendera Prancis dan Jepang mengangkut minyak mentah serta produk petrokimia melalui selat, mengurangi tekanan pada jalur alternatif yang lebih mahal.
Dampak terhadap Indonesia dan Industri Energi Nasional
Indonesia, yang mengandalkan impor minyak dari Teluk Persia, masih menghadapi tantangan. Dua kapal tanker milik Pertamina—Pertamina Pride dan Gamsunoro—meski telah menerima sinyal positif dari Iran, masih tertahan di Teluk Persia karena prosedur akhir belum selesai. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa stok energi nasional tetap terjaga berkat diversifikasi pasokan, termasuk impor dari Amerika Serikat dan Rusia. Sementara itu, kapal Pertamina International Shipping lainnya, seperti PIS Paragon dan PIS Rinjani, telah menghindari Selat Hormuz dengan menempuh rute melalui Teluk Oman.
Signifikansi Global Selat Hormuz
Selat Hormuz menyumbang sekitar 20 % konsumsi minyak dunia, menjadikannya chokepoint paling krusial. Penutupan atau pembatasan akses dapat memicu lonjakan harga energi secara drastis, sebagaimana terlihat pada gelombang pertama krisis pada Februari 2026. Namun, kebijakan “Selective Access” yang kini mulai melonggar membuka peluang bagi negara-negara yang berhasil menegosiasikan izin untuk mempertahankan aliran minyak stabil.
Daftar Negara yang Mendapat Izin Lintas pada Awal April 2026
| No | Negara | Status Akses |
|---|---|---|
| 1 | Rusia | Prioritas Penuh |
| 2 | China | Prioritas Penuh |
| 3 | Irak | Prioritas Penuh |
| 4 | Malaysia | Prioritas Penuh |
| 5 | Prancis | Izin Lintas (April 2026) |
| 6 | Jepang | Izin Lintas (April 2026) |
| 7 | Filipina | Izin Lintas (April 2026) |
| 8 | Turki | Dalam Proses |
Implikasi Ekonomi dan Keamanan Maritim
Penggunaan jalur alternatif seperti “Koridor Omani” dan diversifikasi sumber energi mengurangi ketergantungan pada satu titik geografis. Bagi negara‑negara industri, memperoleh izin lintas berarti dapat menjaga stabilitas pasokan dan menghindari biaya tambahan yang biasanya timbul dari rute memutar melalui Teluk Malaka atau Laut India. Namun, ketidakpastian tetap tinggi; setiap perubahan kebijakan Iran atau eskalasi militer dapat dengan cepat mengubah kondisi di atas laut.
Secara keseluruhan, keberhasilan Prancis, Oman, dan Jepang menembus blokade menandakan bahwa diplomasi bilateral masih menjadi kunci utama dalam mengamankan jalur energi kritis. Sementara itu, Iran tetap menjaga kontrol ketat atas Selat Hormuz, menjadikan identitas bendera kapal dan kepatuhan terhadap protokol sebagai aset berharga dalam era “Diplomasi Transaksional” baru.
Ke depan, komunitas internasional diperkirakan akan terus memantau dinamika ini, mengingat potensi dampak luas pada harga minyak, keamanan maritim, serta keseimbangan geopolitik di kawasan Teluk Persia.
