Keuangan.id – 18 April 2026 | Berlin menegaskan kembali peran diplomasi multinasional dalam menstabilkan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, sambil meminta Republik Rakyat Tiongkok untuk memanfaatkan pengaruhnya atas Tehran guna memastikan akses bebas bagi kapal-kapal komersial. Seruan Jerman muncul di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks, di mana Iran telah mengumumkan pembukaan penuh Selat Hormuz sebagai respons terhadap gencatan senjata 10‑hari antara Lebanon dan Israel, namun Amerika Serikat tetap memberlakukan blokade parsial terhadap pelabuhan Iran.
Latihan Diplomasi Jerman di Tingkat Tinggi
Dalam pertemuan bilateral yang diadakan di Berlin pada 17 April 2026, Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, menegaskan bahwa Jerman “mengharapkan Republik Rakyat Tiongkok untuk secara aktif menekan Iran agar menghormati prinsip kebebasan navigasi internasional di Selat Hormuz.” Baerbock menambahkan bahwa stabilitas jalur pelayaran ini tidak hanya penting bagi perdagangan minyak global, tetapi juga bagi keamanan regional di Timur Tengah.
Permintaan tersebut didasarkan pada fakta bahwa China, sebagai mitra ekonomi utama Iran, memiliki kapasitas politik dan ekonomi yang signifikan untuk memengaruhi kebijakan Tehran. “Kami percaya Tiongkok dapat menjadi katalisator bagi Iran agar menegakkan komitmen internasionalnya, terutama setelah Iran menyatakan Selat Hormuz terbuka secara penuh,” ujar Baerbock.
Iran Buka Selat Hormuz, Namun AS Tetap Blokade
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicara Abbas Araghchi mengumumkan pada 17 Juni 2026 bahwa Selat Hormuz telah dibuka sepenuhnya untuk kapal-kapal komersial selama sisa masa gencatan senjata antara Lebanon‑Israel. Pengumuman ini disampaikan melalui pernyataan resmi yang dikutip oleh NBC News, menyebutkan bahwa rute pelayaran telah dikoordinasikan dengan Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi melalui platform media sosialnya bahwa Iran memang membuka Selat Hormuz, namun menegaskan bahwa “blokade laut akan tetap berlaku sepenuhnya dan hanya terhadap Iran, sampai transaksi kita dengan Iran selesai 100 %.” Trump menambahkan bahwa blokade tersebut akan dipertahankan hingga tercapai kesepakatan damai yang memuaskan kepentingan Amerika.
Secara paralel, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyambut baik langkah Iran tersebut, menyebutnya sebagai “langkah ke arah yang benar” dan menekankan pentingnya mengembalikan hak navigasi internasional secara penuh.
Implikasi Regional dan Global
Pernyataan Jerman menambah dimensi baru dalam upaya diplomatik yang melibatkan beberapa aktor utama. Jika China memilih untuk menurunkan tekanan pada Iran, hal ini dapat mempercepat proses normalisasi lalu lintas maritim, mengurangi ketegangan antara AS dan Tehran, serta menurunkan risiko konflik militer di wilayah tersebut.
- Keamanan energi global: Selat Hormuz menyumbang sekitar 20 % dari pasokan minyak dunia; keterbukaan penuh berarti stabilitas harga minyak.
- Pengaruh China: Dengan investasi infrastruktur energi di Iran, Beijing memiliki leverage ekonomi yang signifikan.
- Posisi AS: Blokade yang dipertahankan dapat memperburuk hubungan dengan sekutu Eropa dan memicu reaksi balasan diplomatik.
Para analis menilai bahwa keberhasilan Jerman dalam menggalang dukungan China akan sangat bergantung pada dinamika internal Beijing‑Tehran, termasuk proyek‑proyek energi bersama dan kebutuhan Iran akan akses ke pasar internasional.
Langkah Selanjutnya
Pihak Jerman berencana mengajukan agenda ini dalam pertemuan G20 yang dijadwalkan pada akhir tahun 2026, dengan harapan dapat menempatkan isu kebebasan navigasi di Selat Hormuz sebagai topik prioritas. Sementara itu, Iran mengindikasikan kesiapan untuk melanjutkan dialog multilateral yang difasilitasi oleh Pakistan, sebagaimana disampaikan oleh Guterres.
Jika China memutuskan untuk menurunkan tekanan, Iran mungkin akan mempertimbangkan pencabutan total blokade yang diberlakukan AS, yang pada gilirannya dapat membuka peluang baru bagi kerja sama ekonomi regional. Namun, jika tekanan tidak berubah, ketegangan di Selat Hormuz dapat berlanjut, mengancam stabilitas perdagangan global.
Dengan kepentingan strategis yang melibatkan sejumlah negara besar, perkembangan ini akan terus dipantau oleh kalangan diplomatik dan ekonomi internasional.
Kesimpulannya, seruan Jerman kepada China menandai upaya baru untuk memecahkan kebuntuan maritim di Selat Hormuz, sementara keputusan Iran membuka selat tersebut belum mampu menghilangkan blokade AS. Dinamika ini menegaskan pentingnya peran negara ketiga dalam memediasi konflik kepentingan di wilayah yang sangat vital bagi perdagangan dunia.











