Keuangan.id – 29 April 2026 | Pemerintah Kota Jakarta Utara (Pemkot Jakut) terus memperkuat program pengendalian spesies ikan invasif dengan menurunkan jumlah ikan sapu-sapu yang mengganggu keseimbangan perairan. Sejak 17 April 2026, tim dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) berhasil mengumpulkan total 493 kilogram ikan sapu-sapu dari berbagai titik perairan di wilayah kota.
Penangkapan massal ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang yang diprakarsai oleh Kepala Suku Dinas KPKP, Novy Christine Palit. Ia menegaskan bahwa upaya ini tidak hanya sekadar mengurangi populasi ikan invasif, melainkan juga berfungsi sebagai langkah restorasi ekosistem sungai dan danau yang selama ini tertekan oleh pertumbuhan biota non‑asli.
Strategi Penangkapan dan Lokasi Fokus
Tim lapangan melakukan inventarisasi menyeluruh pada setiap kelurahan untuk mengidentifikasi habitat utama ikan sapu-sapu. Hasil survei menunjukkan konsentrasi tinggi di saluran penghubung (PHB) Agung Perkasa 8, Kelurahan Sunter Jaya, serta beberapa danau kecil yang terhubung dengan jaringan sungai Tanjung Priok. Pada 28 April 2026, operasi pertama di PHB Agung Perkasa 8 menghasilkan tangkapan sebesar 51 kilogram, yang kemudian diikuti oleh serangkaian aksi di enam kecamatan lainnya.
- Kecamatan Penjaringan
- Kecamatan Tanjung Priok
- Kecamatan Koja
- Kecamatan Pademangan
- Kecamatan Cilincing
- Kecamatan Kelapa Gading
Setiap kawasan dipilih berdasarkan data kepadatan populasi ikan sapu-sapu, kualitas air, dan potensi dampak ekologis. Setelah penangkapan, ikan-ikan yang terperangkap dipindahkan ke fasilitas pemrosesan khusus untuk dijadikan bahan baku pakan ternak atau kompos, sehingga tidak menimbulkan limbah tambahan.
Kolaborasi dan Dukungan Pemerintah Daerah
Inisiatif ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem perairan di ibu kota. Arahan gubernur tersebut menjadi landasan bagi Pemkot Jakut untuk memperluas program pengendalian ke wilayah lain, termasuk penataan ulang vegetasi tepi sungai dan pemasangan jebakan biologis yang ramah lingkungan.
Selain operasi penangkapan, KPKP juga meluncurkan program edukasi masyarakat tentang bahaya spesies invasif. Pendekatan partisipatif melibatkan warga lokal, nelayan, dan komunitas sekolah dalam pemantauan rutin serta pelaporan kejadian penemuan ikan sapu-sapu di daerah mereka.
Hasil dan Dampak Awal
Selama periode dua minggu, total berat ikan yang berhasil diangkat mencapai 493 kilogram, setara dengan sekitar 2.500 ekor dengan ukuran rata-rata 20 sentimeter. Penurunan drastis ini telah terlihat pada beberapa titik pemantauan kualitas air, di mana kadar oksigen terlarut meningkat dan pertumbuhan ganggang berlebih menurun.
Para ahli lingkungan menilai bahwa langkah ini dapat memicu pemulihan habitat alami bagi spesies ikan endemik, seperti ikan lele dan ikan gabus, yang selama ini bersaing ketat dengan ikan sapu-sapu untuk sumber makanan.
Keberhasilan operasi ini juga membuka peluang bagi kota lain di Indonesia yang menghadapi masalah serupa untuk mengadopsi model pengendalian berbasis data dan kolaborasi lintas sektor.
Dengan rencana penangkapan rutin yang akan terus digulirkan ke wilayah lain, Pemkot Jakarta Utara berharap dapat menurunkan populasi ikan sapu-sapu secara signifikan dalam beberapa bulan mendatang, sekaligus memperbaiki kualitas perairan yang menjadi sumber kehidupan bagi jutaan warga kota.











