Keuangan.id – 06 Mei 2026 | Iran kembali menutup akses Selat Hormuz pada awal Mei 2026, menimbulkan kepanikan di kalangan pelayaran internasional dan memaksa perusahaan energi Indonesia, Pertamina International Shipping (PIS), untuk mengungkap nasib dua kapal tanker milik negara tersebut.
Aturan Baru Iran di Selat Hormuz
Teheran mengeluarkan mekanisme baru yang mengharuskan semua kapal komersial yang ingin melintasi Selat Hormuz untuk berkoordinasi dengan militer Iran melalui email resmi Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA). Setiap kapal harus menerima izin transit setelah mematuhi kerangka kerja yang ditetapkan, termasuk mengikuti rute yang telah ditentukan dan melaporkan posisi secara real‑time. Iran juga memperluas peta wilayah kontrolnya, menandakan bahwa area di bawah kendali Teheran kini mencakup zona tambahan di sekitar selat. Pemerintah AS secara tegas memperingatkan angkatan lautnya untuk tidak memasuki zona tersebut, mengingat ketegangan yang terus memuncak sejak perang AS‑Israel pada 28 Februari 2026.
Taktik Tanker Iran Mengelak Blokade AS
Sementara itu, sebuah tanker super milik National Iranian Tanker Company (NITC) yang dikenal dengan nama “HUGE” berhasil menghindari blokade militer Amerika di Teluk Oman dengan mematikan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) sejak 20 Maret. Tanpa sinyal AIS, kapal tersebut melintasi Selat Lombok dan menembus perairan Indonesia menuju Kepulauan Riau, mengangkut sekitar 1,9 juta barrel minyak mentah senilai Rp 3,8 triliun. Strategi serupa dipilih oleh beberapa tanker Iran untuk mengirimkan minyak ke China, melewati pantai Pakistan dan India sebelum mencapai pelabuhan di Selat Malaka. Menteri Luar Negeri Indonesia menegaskan bahwa keberadaan kapal tersebut berada dalam koridor hukum internasional dan pemerintah terus memantau melalui saluran diplomatik.
Respons Amerika Serikat: Akhir Operasi Epic Fury
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengumumkan pada 5 Mei 2026 bahwa operasi militer “Epic Fury” telah resmi dihentikan. Penghentian ini sekaligus menandai penangguhan sementara “Project Freedom”, inisiatif yang sebelumnya mengawal kapal komersial melintasi Selat Hormuz. Fokus kebijakan AS kini beralih ke pendekatan defensif dan diplomasi, dengan delegasi yang dipimpin Jared Kushner dan Steve Witkoff membuka ruang negosiasi dengan Tehran. Meski operasi tempur berakhir, serangan rudal dan drone masih dilaporkan terjadi di wilayah tersebut, memperlihatkan ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.
PIS Ungkap Nasib Dua Kapal Pertamina
Dalam konteks penutupan Selat Hormuz yang berulang, PIS memberikan penjelasan resmi mengenai dua kapal tanker Pertamina, yakni “Pertamina‑1” dan “Pertamina‑2”, yang sempat terperangkap di selat tersebut pada pertengahan April 2026. Menurut pernyataan PIS, kedua kapal tersebut awalnya dijadwalkan melintasi Selat Hormuz pada 12 April, namun terpaksa menunggu izin transit yang belum diberikan karena prosedur baru Iran. Setelah berkoordinasi dengan otoritas maritim Iran, kedua kapal dipindahkan ke jalur alternatif melalui Selat Bab al‑Mandab, melanjutkan perjalanan ke pelabuhan di India dan kemudian ke Singapura. Pertamina‑1 kini berada di pelabuhan Jamnagar, India, sementara Pertamina‑2 sedang dalam proses bongkar muat di pelabuhan Singapore. PIS menegaskan bahwa kedua kapal tetap aman, tidak mengalami kerusakan, dan akan kembali mengirimkan produk minyak ke Indonesia sesegera mungkin.
Pengembangan terbaru ini menegaskan betapa dinamisnya situasi maritim di kawasan Teluk Persia. Aturan baru Iran menambah beban administratif bagi kapal komersial, sementara taktik tanker Iran yang mematikan AIS menimbulkan tantangan baru bagi pengawasan internasional. Di samping itu, perubahan kebijakan AS menunjukkan pergeseran dari konfrontasi militer ke diplomasi, meski ancaman serangan masih mengintai. Bagi Indonesia, keberhasilan PIS dalam mengamankan dua kapal Pertamina mencerminkan kesiapan perusahaan dalam menghadapi gejolak geopolitik, sekaligus menegaskan pentingnya koordinasi dengan otoritas regional untuk menjaga kelancaran pasokan energi nasional.











