Keuangan.id – 13 Maret 2026 | JAKARTA – Iran secara resmi menutup Selat Hormuz pada 1 Maret 2026, menandai penutupan pintu diplomasi dan menyiapkan diri untuk konflik bersenjata yang diproyeksikan akan berlangsung lama. Keputusan itu diambil setelah serangkaian ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan milisi Garda Revolusi Iran pada akhir Februari, serta penutupan sebagian jalur dengan alasan “keamanan” terkait latihan militer elit tersebut.
Dampak Langsung pada Pasokan Minyak Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu oil chokepoint paling kritis; pada 2024 sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasinya, setara hampir seperlima konsumsi minyak global. Data Energy Information Administration (EIA) mencatat bahwa 84 persen minyak dan 83 persen LNG yang melintasi selat tersebut dikirim ke negara‑negara Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Penutupan ini langsung mendorong harga minyak Brent naik dari perkiraan sebelumnya sekitar 70 dolar AS per barel menjadi kisaran 78‑80 dolar AS. Fluktuasi harga ini tidak hanya memengaruhi pasar internasional, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius bagi negara‑negara importir seperti Indonesia.
Kesiapan Indonesia Menghadapi Krisis Energi
Indonesia mengonsumsi antara 1,5 hingga 1,6 juta barel minyak per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel. Kesenjangan tersebut memaksa negara ini mengimpor sekitar satu juta barel tiap hari. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan stok BBM nasional cukup untuk sekitar 20 hari, namun pakar energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menekankan bahwa persediaan tersebut hanyalah “operational inventory” yang bergantung pada pasokan pasar harian.
“Jika pasokan global terganggu dalam jangka panjang, tidak ada lapisan cadangan darurat di belakangnya,” ujar Yayan dalam wawancara dengan DW Indonesia. Ia menggambarkan situasi seperti kulkas yang hanya berisi makanan cukup untuk 20 hari; setelah itu harus kembali berbelanja di pasar, selama pasar tetap terbuka.
Implikasi Geopolitik dan Ekonomi
Penutupan Selat Hormuz menandai perubahan strategi Iran dari diplomasi ke konfrontasi militer terbuka. Langkah ini memperkuat posisi Iran dalam negosiasi energi, namun sekaligus meningkatkan risiko eskalasi yang dapat menjerat negara‑negara di sekitar kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Secara ekonomi, gangguan aliran minyak dapat memperburuk inflasi energi di Indonesia, yang pada tahun 2024 sudah berada di level tinggi. Kenaikan harga bahan bakar berpotensi menambah beban pada anggaran rumah tangga dan memaksa pemerintah mempertimbangkan kebijakan subsidi atau diversifikasi energi.
Langkah Pemerintah Indonesia
- Meningkatkan cadangan strategis minyak melalui penambahan strategic petroleum reserve (SPR).
- Mempercepat transisi ke energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak.
- Menjalin dialog diplomatik dengan negara‑negara produsen minyak lain untuk memastikan diversifikasi sumber pasokan.
- Memperkuat kebijakan efisiensi energi di sektor transportasi dan industri.
Selain itu, Kementerian Luar Negeri berupaya meningkatkan koordinasi dengan sekutu regional dalam rangka menjaga keamanan jalur pelayaran di Laut Arab.
Situasi di Selat Hormuz masih sangat dinamis. Meskipun Iran mengklaim penutupan tersebut bersifat temporer dan bertujuan menguji kesiapan internasional, risiko terjadinya konflik berskala lebih luas tetap tinggi. Pengamat militer memperingatkan bahwa eskalasi dapat memicu keterlibatan kekuatan besar lainnya, memperpanjang ketidakstabilan regional selama bertahun‑tahun.
Dengan ketergantungan energi yang tinggi, Indonesia harus menyiapkan strategi jangka panjang yang tidak hanya mengandalkan pasokan minyak luar negeri, tetapi juga memperkuat kemandirian energi nasional. Langkah-langkah tersebut akan menjadi kunci dalam menghadapi potensi krisis pasokan yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz.
