Keuangan.id – 19 April 2026 | Iran kembali menegaskan kontrolnya atas Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Setelah hampir dua bulan penutupan sebagian besar lalu lintas komersial, Tehran mengumumkan kebijakan baru yang menegaskan bahwa selat tidak akan kembali ke kondisi “normal” seperti sebelum ketegangan meningkat pada awal April 2026.
Latihan Penutupan dan Ancaman Militer
Pada malam 18 April 2026, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menutup total Selat Hormuz untuk kapal komersial, memperingatkan bahwa setiap kapal yang mendekat akan menjadi target. IRGC menegaskan bahwa tidak ada kapal yang boleh bergerak dari pelabuhan di Teluk Persia atau Laut Oman tanpa izin khusus dari Tehran. Ancaman ini disertai dengan laporan bahwa beberapa kapal, termasuk tanker, telah menjadi sasaran tembakan dari patroli Iran.
Motivasi di Balik Kebijakan
Iran menyebut blokade laut yang dijalankan Amerika Serikat sebagai pemicu utama. Sejak 13 April, AS telah memaksa puluhan kapal berbalik, menegaskan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai tekanan dalam negosiasi damai. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menilai tindakan Amerika melanggar gencatan senjata yang sedang berlaku dan menolak membuka kembali selat sampai blokade dihentikan.
Strategi Tatanan Baru
Tehran mengusulkan “tatanan baru” di Teluk Persia yang mencakup:
- Pengawasan ketat terhadap semua kapal yang melintasi selat, dengan persetujuan wajib dari otoritas militer Iran.
- Pembentukan zona larangan militer yang lebih luas, mencakup wilayah perairan lepas pantai di sekitar Hormuz.
- Peningkatan kapasitas pertahanan pantai, termasuk radar, sistem anti‑kapal, dan unit patroli cepat.
- Negosiasi ulang dengan negara-negara pengguna jalur, menekankan peran Iran sebagai “penjaga keamanan regional”.
Strategi ini dirancang untuk mengubah dinamika geopolitik di kawasan, menjadikan Iran bukan sekadar pemain, melainkan pengendali utama arus energi dunia.
Dampak Ekonomi Global
Penutupan Selat Hormuz secara parsial telah memicu lonjakan harga minyak dan gas dunia. Menurut data perdagangan internasional, volume ekspor minyak dari wilayah Teluk menurun sekitar 15 % sejak awal penutupan, memaksa produsen alternatif mencari rute lebih panjang melalui Laut Merah dan Terusan Suez. Kenaikan harga energi berdampak pada inflasi di negara‑negara importir, terutama di Asia Tenggara dan Eropa.
Respons Internasional
Amerika Serikat menolak tuduhan Iran tentang “memeras” jalur laut, menegaskan bahwa blokade akan tetap berlanjut sampai Tehran menghentikan aksi militer di wilayahnya. Presiden AS, yang pada waktu itu masih menjabat sebagai Donald Trump, menyatakan bahwa Iran tidak dapat menggunakan ancaman atas Selat Hormuz sebagai alat tawar menawar. Negara‑negara Eropa, termasuk Prancis dan Inggris, menyerukan dialog multilateral dan menekankan pentingnya menjaga kebebasan navigasi.
Reaksi Politik Dalam Negeri Iran
Para pemimpin politik Iran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, memperkuat posisi keras mereka. Ghalibaf menulis di media sosial X bahwa selat tidak akan tetap terbuka selama blokade berlanjut, menambahkan bahwa setiap pelayaran tanpa izin akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei menegaskan kesiapan Iran untuk mengambil tindakan militer bila diperlukan.
Prospek Kedepan
Dengan gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada 22 April 2026, dan tanpa tanda-tanda kompromi dari pihak AS, kemungkinan selat akan tetap berada di bawah kontrol ketat Iran. Negosiasi damai yang sedang berlangsung belum menghasilkan kesepakatan konkret, sementara Iran terus menyiapkan infrastruktur militer dan administratif untuk menegakkan kebijakan barunya.
Jika Iran berhasil menerapkan tatanan baru ini, peta geopolitik Teluk Persia dapat mengalami perubahan signifikan, menjadikan Selat Hormuz bukan lagi sekadar jalur perdagangan global, melainkan simbol kekuasaan regional yang baru.
