Intip Saham Undervalued yang Diborong Asing Saat IHSG Kembali Turun

Intip Saham Undervalued yang Diborong Asing Saat IHSG Kembali Turun
Intip Saham Undervalued yang Diborong Asing Saat IHSG Kembali Turun

Keuangan.id – 21 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menampilkan pergerakan berlawanan pada Selasa, 31 Maret 2026, saat indeks sempat turun namun tetap menarik perhatian investor asing yang aktif melakukan net sell. Meskipun IHSG menutup pada level 7.634, angka penurunan ini diiringi oleh aksi penjualan bersih investor asing sebesar Rp1,59 triliun dalam seminggu terakhir, menandakan strategi rebalancing portofolio yang agresif.

IHSG Bangkit di Tengah Tekanan Pasar

Setelah mengalami penurunan pada awal minggu, IHSG berhasil rebound ke angka 7.634,004, mencatatkan kenaikan 2,35% pada pekan kedua April 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh lonjakan transaksi domestik, dengan rata‑rata nilai transaksi harian melonjak 17,56% menjadi Rp20,36 triliun dan frekuensi transaksi harian naik 32,71%.

Aksi Penjualan Bersih Investor Asing

Data BEI mengungkapkan bahwa investor asing tetap melakukan aksi jual bersih sebesar Rp931,61 miliar pada penutupan pekan lalu, meski total kapitalisasi pasar bursa naik signifikan menjadi Rp13.635 triliun. Saham blue‑chip seperti BBCA, BMRI, BBRI, ANTM, dan GOTO menjadi target utama penjualan asing. Secara kumulatif sepanjang tahun 2026, nilai penjualan bersih investor asing telah mencapai Rp39,86 triliun, menegaskan bahwa penguatan IHSG saat ini lebih banyak dipicu oleh domestik.

Saham Undervalued yang Patut Diperhatikan

Di tengah aksi jual asing, beberapa saham masih dianggap undervalued oleh analis pasar. Sektor keuangan, energi, dan konsumer menampilkan valuasi yang masih di bawah rata‑rata historis, menawarkan peluang bagi investor yang mengincar entry point yang menarik. Berikut beberapa contoh saham yang masuk dalam daftar undervalued:

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – meskipun menjadi target penjualan asing, rasio price‑to‑earnings (P/E) masih lebih rendah dibandingkan peers regional.
  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) – nilai book value per saham yang kuat mendukung ekspektasi pertumbuhan laba jangka panjang.
  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) – harga komoditas logam yang masih tertekan menjadikan valuasi sahamnya relatif murah.
  • PT Gojek Tokopedia (GOTO) – meskipun berada di sektor teknologi, margin operasional yang meningkat membuat valuasi terkesan menarik.

Investor yang menilai fundamental kuat dapat memanfaatkan koreksi jangka pendek untuk menambah posisi pada saham‑saham tersebut.

Faktor Geopolitik dan Sentimen Global

Pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran mengurangi ketegangan energi global, menurunkan harga minyak mentah AS lebih dari 11%. Sentimen positif ini turut memicu kenaikan indeks utama Wall Street, seperti Nasdaq (+1,52%) dan S&P 500 (+1,20%). Optimisme global memperkuat aliran modal masuk ke pasar emerging, termasuk Indonesia, meski aksi penjualan asing tetap signifikan.

Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji resistance di level 7.660. Jika gagal menembus, pasar dapat mengoreksi ke support antara 7.600 hingga 7.500. Investor perlu memperhatikan volume transaksi dan aliran dana asing sebagai indikator arah pasar selanjutnya.

Kesimpulannya, meskipun IHSG mengalami penurunan sesaat, kombinasi antara aksi beli domestik, peluang pada saham undervalued, dan sentimen geopolitik yang membaik menciptakan lanskap yang menarik bagi pelaku pasar. Investor disarankan tetap memantau data net sell asing serta memperhatikan indikator teknikal untuk mengoptimalkan keputusan investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *