Keuangan.id – 16 Mei 2026 | Hubungan militer dan teknologi antara Tiongkok dan Iran kembali menjadi sorotan di tengah konflik terbaru di Timur Tengah. Sejumlah laporan intelijen Barat menyebut Beijing terus membantu Iran melalui transfer teknologi pertahanan, intelijen, hingga komponen senjata, meski Tiongkok secara resmi membantah memasok persenjataan langsung kepada Tehran.
Menurut laporan intelijen AS, Tiongkok masih membantu Iran dalam bidang intelijen, pengawasan, teknologi drone, dan pengembangan rudal. Penyitaan kapal Iran oleh pasukan AS di Teluk Oman pada 19 April lalu, yang diduga membawa barang dual-use dari Pelabuhan Gaolan di Tiongkok, disebut menjadi indikasi meningkatnya perhatian Washington terhadap jalur pasokan tersebut.
Beijing diketahui pernah menjadi pemasok utama senjata konvensional bagi Iran pada 1980-an, namun mengurangi transfer langsung setelah resolusi Dewan Keamanan PBB pada 2015 memperketat pengawasan internasional. Sejak itu, kerja sama keamanan lebih banyak bergeser ke transfer teknologi dual-use yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer.
Laporan tersebut menyebut komponen Tiongkok seperti sensor, semikonduktor, dan konverter tegangan ditemukan dalam drone Iran. Tiongkok juga disebut membantu Iran melalui sistem pengawasan dan intelijen terkait pergerakan militer AS di kawasan Teluk.
Kini muncul laporan bahwa Tiongkok tengah menyiapkan pengiriman sistem pertahanan udara baru ke Iran dalam beberapa pekan mendatang. Menurut laporan intelijen AS, Beijing diduga sedang mengatur jalur pengiriman melalui negara ketiga untuk menyamarkan asal persenjataan tersebut.
Presiden Trump sendiri memperingatkan bahwa Tiongkok akan menghadapi “masalah besar” jika benar memasok rudal tersebut ke Iran. Konflik ini menjadi sorotan di tengah rencana pertemuan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump di Beijing pekan ini.
Beberapa negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain yang terdampak serangan rudal Iran dalam konflik saat ini. China juga dinilai berhati-hati agar tidak merusak hubungannya dengan negara-negara tersebut.
“Bagi Beijing, akses ke pasar AS lebih penting dibanding memperkuat basis China di Iran,” ujar beberapa laporan itu. Namun, laporan intelijen AS menyebut China masih membantu Iran dalam berbagai bidang, termasuk intelijen, pengawasan, teknologi drone, dan pengembangan rudal.
Konflik di Timur Tengah masih berlanjut, dan hubungan antara Tiongkok dan Iran masih menjadi sorotan. Apakah Tiongkok akan terus membantu Iran, atau apakah akan mengambil langkah mundur? Jawabannya masih belum jelas, namun satu hal yang pasti, konflik di Timur Tengah akan terus berlangsung.











