Keuangan.id – 11 April 2026 | Industri baja di Indonesia diproyeksikan mencatat pertumbuhan hampir 16% pada tahun 2025, menandakan percepatan dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan permintaan dari sektor konstruksi, otomotif, dan infrastruktur yang tengah berkembang pesat.
Meski demikian, tingkat pemanfaatan kapasitas produksi masih berada di bawah setengah, yakni sekitar 52,7%. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar fasilitas produksi belum beroperasi pada kapasitas optimal, yang berpotensi menurunkan margin keuntungan dan meningkatkan biaya per unit.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan produksi baja (2025) | 15,71 % |
| Utilisasi kapasitas | 52,7 % |
Ketergantungan pada bahan baku impor menjadi tantangan utama. Sebagian besar bahan baku baja, seperti bijih besi dan batubara metallurgi, masih diimpor dari negara lain, sehingga fluktuasi nilai tukar dan kebijakan perdagangan luar negeri dapat memengaruhi biaya produksi secara signifikan.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah dan pelaku industri diharapkan meningkatkan investasi pada penambangan dalam negeri, memperkuat rantai pasok bahan baku, serta menerapkan kebijakan insentif bagi produsen yang mengoptimalkan kapasitas produksi. Selain itu, pengembangan teknologi daur ulang baja dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan impor.
Jika tantangan tersebut dapat diatasi, prospek industri baja Indonesia ke depan cukup menjanjikan, dengan peluang ekspansi ke pasar regional dan kontribusi yang lebih signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.











