Keuangan.id – 03 April 2026 | Jakarta, 2 April 2026 – Pemerintah Indonesia tengah melakukan pergeseran strategi impor bahan baku plastik setelah konflik yang meluas di Timur Tengah mengganggu rantai pasok naphtha (nafta), komponen utama produksi plastik resin. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa ketergantungan pada impor naphtha dari kawasan Teluk kini menjadi risiko strategis yang harus diatasi.
Situasi Impor Plastik Saat Ini
Sejak penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan antara Israel‑Amerika Serikat dan Iran, volume impor naphtha dari negara‑negara Timur Tengah menurun drastis. Hal ini menyebabkan penurunan pasokan bahan baku hulu bagi industri petrokimia Indonesia, yang pada gilirannya mendorong lonjakan harga plastik di pasar domestik. Harga naphtha yang sebelumnya berada di kisaran Rp 15.000‑17.000 per kilogram kini melonjak hingga sekitar Rp 30.000 per kilogram, menurut data asosiasi industri olefin, aromatik, dan plastik (Inaplas).
Upaya Pemerintah Mencari Alternatif Pemasok
Menanggapi tekanan tersebut, Kementerian Perdagangan mengintensifkan dialog dengan asosiasi industri, pelaku usaha, serta perwakilan diplomatik di luar negeri. Budi Santoso menjelaskan bahwa Indonesia telah melirik tiga wilayah utama sebagai calon pemasok baru: India, beberapa negara di Afrika, dan Amerika Serikat. “Kita sudah mulai melakukan pendekatan, namun prosesnya memerlukan waktu karena perubahan rantai pasok tidak dapat dilakukan secara mendadak,” ujarnya dalam konferensi pers di SPPG Jetis 1, Sukoharjo.
India menjadi target pertama karena memiliki kapasitas produksi naphtha yang cukup besar serta jaringan logistik yang relatif stabil. Sementara itu, negara‑negara Afrika seperti Nigeria dan Angola menawarkan potensi diversifikasi, dan Amerika Serikat menjadi opsi tambahan berkat infrastruktur petrokimia yang canggih.
Dampak Global Terhadap Harga Plastik
Fenomena kenaikan harga plastik tidak terbatas pada Indonesia. Negara‑negara seperti Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan Taiwan juga melaporkan kondisi force majeure di sektor petrokimia mereka. Kenaikan harga minyak mentah global – yang naik dari US$67 menjadi US$98 per barel setelah penutupan Selat Hormuz – serta lonjakan harga gas alam lebih dari 60 % di pasar Asia‑Eropa, memperparah tekanan pada produksi plastik.
Akibatnya, harga plastik konsumen mengalami peningkatan signifikan. Di pasar ritel, satu pak plastik berukuran standar yang dulu dijual sekitar Rp 17.000 kini dibanderol antara Rp 22.000‑23.000. Kenaikan ini dirasakan langsung oleh pedagang, produsen barang konsumen, serta sektor logistik yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
Langkah Pemerintah Menjaga Stabilitas Harga Pangan
Selain fokus pada bahan baku plastik, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa pasokan dan harga pangan tetap terkendali. “Harga bahan pangan masih relatif stabil karena sebagian besar tidak bergantung pada impor,” katanya dalam pertemuan bersama Menteri Perdagangan.
Pemerintah juga telah menyiapkan kebijakan penyesuaian tarif impor dan subsidi sementara bagi produsen plastik domestik yang terdampak, guna mencegah terjadinya inflasi pada barang kebutuhan pokok.
Prospek Jangka Panjang dan Tantangan
Para ahli menyatakan bahwa diversifikasi sumber naphtha merupakan langkah penting, namun tidak menghilangkan risiko jangka panjang. Prof. Patrick Penfield dari Universitas Syracuse menilai bahwa volatilitas geopolitik akan terus memengaruhi pasar energi dan petrokimia global selama konflik di Timur Tengah belum terselesaikan.
Indonesia perlu memperkuat kapasitas produksi dalam negeri, termasuk pengembangan petrokimia berbasis energi terbarukan, sebagai upaya jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Pemerintah telah menyiapkan rencana investasi pada proyek‑proyek petrochemical park di wilayah Jawa Barat dan Kalimantan, yang diharapkan dapat menambah cadangan naphtha domestik dalam 3‑5 tahun ke depan.
Secara keseluruhan, pergeseran pemasok bahan baku plastik ke India, Afrika, dan AS merupakan respons cepat terhadap gangguan luar negeri. Meskipun proses transisi memerlukan waktu, langkah ini diharapkan dapat menstabilkan pasokan, menurunkan tekanan harga, dan memperkuat ketahanan industri petrokimia Indonesia.











