Keuangan.id – 09 Mei 2026 | Perang Iran dan krisis Selat Hormuz telah membawa dampak besar pada harga energi di seluruh dunia. Akibatnya, harga BBM melonjak dan menjadi yang tertinggi di dunia. Namun, di balik krisis ini, beberapa perusahaan global justru meraup untung besar.
Perang Iran dimulai oleh serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menutup Selat Hormuz. Jalur vital ini merupakan rute bagi 20 persen minyak dunia, sehingga penutupannya menyebabkan harga energi melonjak.
BP, salah satu raksasa minyak asal Eropa, melaporkan laba naik lebih dari dua kali lipat menjadi 3,2 miliar dollar AS pada kuartal pertama tahun ini. Performa ini disebut sebagai “luar biasa” dari divisi perdagangan mereka. Shell, perusahaan minyak lainnya, juga melampaui ekspektasi analis dengan laba kuartal pertama sebesar 6,92 miliar dollar AS.
Dampak Ekonomi
Dampak ekonomi terbesar dari perang ini adalah lonjakan harga energi. Harga BBM di Hong Kong telah pecahkan rekor sebagai yang tertinggi di dunia. Kondisi ini menguntungkan raksasa minyak asal Eropa yang memiliki unit perdagangan kuat.
Perang ini juga berdampak pada pengeluaran keluarga, perusahaan, hingga pemerintah di berbagai negara. Namun, beberapa sektor seperti perusahaan minyak dan gas, serta perusahaan yang memiliki unit perdagangan kuat, justru meraup untung besar.
Kesimpulan
Perang Iran dan krisis Selat Hormuz telah membawa dampak besar pada harga energi di seluruh dunia. Harga BBM melonjak dan menjadi yang tertinggi di dunia. Namun, beberapa perusahaan global justru meraup untung besar akibat kondisi ini. Oleh karena itu, penting untuk memantau situasi ini dan memahami dampaknya pada ekonomi global.
