Keuangan.id – 08 Mei 2026 | Harga emas diprediksi akan melonjak tajam dalam waktu dekat, bahkan tembus US$6.000 per ons. Sejumlah analis global memperkirakan harga emas dunia berpotensi menembus bahkan melampaui level USD6.000 per troy ounce pada tahun ini.
Prospek bullish tersebut didorong oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik, potensi penurunan suku bunga The Fed, hingga aksi borong emas oleh bank sentral dunia. Menurut Devere Group, JP Morgan bahkan menjadi salah satu bank investasi terbaru yang menaikkan target harga emasnya.
Mereka memproyeksikan logam mulia itu bisa mencapai USD6.300 per troy ounce pada akhir tahun. Optimisme serupa juga datang dari Deutsche Bank dan Societe Generale yang menilai reli emas masih berpotensi berlanjut hingga 2026.
Para analis melihat kenaikan harga emas saat ini bersifat struktural, bukan sekadar spekulatif jangka pendek. Permintaan emas yang terus meningkat dari bank sentral, ketegangan geopolitik global, serta kekhawatiran terhadap pelemahan mata uang fiat disebut menjadi faktor utama yang menopang tren kenaikan harga emas.
Analis SocGen bahkan menilai level USD6.000 per ons bisa terlihat “konservatif” jika konflik geopolitik semakin memanas. Mereka menyoroti potensi pemangkasan suku bunga The Fed sebanyak dua hingga tiga kali tahun ini, ditambah risiko meningkatnya konflik di Timur Tengah, sebagai katalis besar bagi penguatan emas.
Sementara itu, para ahli strategi di UBS memperkirakan harga emas dapat mencapai USD6.000 tahun ini dan bahkan berpotensi melonjak hingga USD7.200 dalam skenario optimistis apabila tensi geopolitik terus meningkat.
Harga emas sendiri sempat menembus level USD5.000 pada Februari lalu ketika investor global berbondong-bondong mencari aset safe haven di tengah kekhawatiran konflik besar di Timur Tengah. Meski sempat terkoreksi, harga emas kembali menunjukkan penguatan pada awal Mei 2026.
Meski demikian, tidak semua analis sepakat bahwa reli emas akan terus berlanjut tajam. Bank of America memproyeksikan harga emas cenderung stabil di kisaran USD5.000 per ons. Sedangkan HSBC dan Commerzbank memperkirakan harga emas rata-rata bergerak di area pertengahan hingga akhir USD4.000-an dalam 12 bulan ke depan.
Simulasi potensi untung rugi investasi emas juga perlu diperhatikan. Jika harga emas melonjak tajam, maka investor yang sudah membeli emas sebelumnya dapat memperoleh keuntungan yang signifikan. Namun, jika harga emas jatuh, maka investor dapat mengalami kerugian.
Oleh karena itu, penting untuk melakukan analisis yang cermat dan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum membuat keputusan investasi. Dengan demikian, investor dapat meminimalkan risiko dan memaksimalkan keuntungan.
