Keuangan.id – 07 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan tetap berada di zona rawan koreksi pada perdagangan Selasa, 7 April 2026. Meskipun indeks masih mencatat pergerakan positif dalam beberapa sesi terakhir, tekanan dari faktor eksternal seperti volatilitas pasar global, pergerakan nilai tukar, dan data ekonomi domestik yang belum sepenuhnya stabil menimbulkan kekhawatiran akan penurunan nilai dalam jangka pendek.
Beberapa indikator teknikal menunjukkan bahwa IHSG berada di dekat level support penting sekitar 6.800 poin. Bila harga menembus batas tersebut, potensi penurunan lebih lanjut dapat terjadi, mengingat sentimen investor masih sensitif terhadap berita ekonomi makro.
Di tengah ketidakpastian ini, analis pasar tetap menyoroti empat saham yang dianggap memiliki fundamental kuat dan potensi upside meskipun pasar secara keseluruhan berada dalam tekanan. Berikut rangkuman rekomendasi:
- BBCA (Bank Central Asia): Bank terbesar di Indonesia dengan rasio NPL (Non-Performing Loan) yang rendah dan pertumbuhan kredit yang stabil. Analisis menunjukkan prospek pendapatan yang kuat seiring peningkatan inklusi keuangan.
- TLKM (Telekomunikasi Indonesia): Penyedia layanan telekomunikasi terkemuka yang terus memperluas jaringan 5G. Pendapatan dari layanan data dan solusi digital diproyeksikan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
- UNVR (Unilever Indonesia): Produsen barang konsumen dengan portofolio merek yang kuat. Meskipun margin tekanan inflasi, perusahaan tetap memiliki daya tahan harga dan pangsa pasar yang solid.
- ASII (Astra International): Konglomerat multinasional dengan diversifikasi bisnis di otomotif, agribisnis, dan infrastruktur. Kinerja keuangan yang konsisten dan eksposur pada proyek infrastruktur pemerintah menjadi faktor penunjang.
Para analis menyarankan investor yang memiliki profil risiko menengah hingga tinggi untuk mempertimbangkan penempatan sebagian portofolio pada saham-saham di atas, terutama bila harga IHSG mengalami koreksi. Diversifikasi tetap menjadi kunci utama dalam mengelola volatilitas pasar.











