Keuangan.id – 15 Maret 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada sesi perdagangan akhir pekan, tercatat turun 3,05% dan menutup pada level 7.137 poin. Penurunan ini menambah tekanan pada pasar saham Indonesia yang telah mencatat penurunan mingguan sebesar 5,91% sejak awal Maret. Selain itu, kapitalisasi pasar terpangkas hampir 7% menjadi Rp 12,678 triliun, menandakan likuiditas yang semakin menipis.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap bahwa volume transaksi harian rata‑rata selama seminggu terakhir menyusut 25,49% menjadi 31,55 miliar saham, sementara frekuensi transaksi harian turun 31,54% menjadi 1,87 juta kali. Kondisi ini dipicu oleh sejumlah faktor makroekonomi dan geopolitik yang memperkuat sentimen negatif di kalangan pelaku pasar.
Faktor-faktor Penurunan
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah: Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menimbulkan kekhawatiran tentang pasokan minyak dunia, mengakibatkan lonjakan harga minyak mentah. Kenaikan harga energi menekan profitabilitas perusahaan yang mengandalkan bahan bakar impor.
- Data inflasi AS yang tetap tinggi: Inflasi di Amerika Serikat tetap berada di level 2,4% YoY, menimbulkan spekulasi bahwa Federal Reserve dapat menunda pemangkasan suku bunga. Kebijakan moneter AS yang ketat berpotensi mengalirkan modal kembali ke pasar obligasi Amerika, mengurangi aliran dana ke pasar berkembang termasuk Indonesia.
- Jelang libur panjang Nyepi dan Idul Fitri: Historisnya, pergerakan IHSG pada bulan Ramadan cenderung mengikuti pola “U‑shape”, di mana volatilitas meningkat menjelang hari raya. Investor cenderung mengadopsi strategi “wait‑and‑see”, menahan posisi hingga pasar tutup untuk libur.
- Net sell asing terbesar akhir pekan: Data BEI mencatat net sell asing senilai sekitar Rp 8,4 triliun pada akhir pekan, menjadikannya penjualan bersih terbesar oleh investor institusional asing dalam tiga minggu terakhir. Penjualan ini terutama terjadi pada sektor keuangan, infrastruktur, dan konsumer, yang sebelumnya menjadi magnet aliran dana asing.
Reaksi Investor dan Outlook
Para analis menilai bahwa tekanan jual masih dominan meski koreksi mingguan menunjukkan sedikit perbaikan dibandingkan minggu sebelumnya, di mana IHSG sempat turun 7,89% ke level 7.585,68. Herditya Wicaksana dari PT MNC Sekuritas menegaskan bahwa “selama sepekan, IHSG masih berada dalam fase koreksi yang dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik”. Ia menambahkan bahwa volume transaksi yang menurun mengindikasikan kurangnya minat beli di kalangan institusi lokal, sementara aksi jual asing memperparah defisit likuiditas.
Untuk menghadapi kondisi ini, analis merekomendasikan investor untuk memperkuat manajemen risiko, memanfaatkan peluang pada sektor defensif seperti utilitas dan consumer staples, serta menunggu sinyal kebijakan moneter global yang lebih jelas. Di sisi lain, para trader jangka pendek diharapkan memantau level support teknikal di sekitar 7.000 poin, yang jika ditembus dapat memicu penurunan lebih lanjut.
Secara keseluruhan, meskipun IHSG telah menunjukkan koreksi lebih ringan dibandingkan minggu lalu, tekanan geopolitik, data inflasi AS, dan aksi jual asing yang signifikan tetap menjadi faktor penghambat pemulihan. Investor disarankan untuk tetap waspada, menyesuaikan alokasi portofolio, dan menunggu konfirmasi arah pasar setelah libur panjang Ramadan berakhir.











