Harga Plastik Naik hingga 40 Persen, Konflik Timteng Tekan Rantai Pasok Global

Harga Plastik Naik hingga 40 Persen, Konflik Timteng Tekan Rantai Pasok Global
Harga Plastik Naik hingga 40 Persen, Konflik Timteng Tekan Rantai Pasok Global

Keuangan.id – 13 April 2026 | Pasar plastik di Indonesia mengalami lonjakan harga yang signifikan pada kuartal pertama tahun ini, dengan kenaikan mencapai 40 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku petrokimia yang berawal dari konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Kawasan Timur Tengah, khususnya negara‑negara produsen minyak dan gas utama, menjadi sumber utama feedstock untuk industri petrokimia dunia. Ketegangan militer dan sanksi ekonomi yang diterapkan sejak awal tahun meningkatkan risiko produksi serta menghambat pengiriman barang melalui jalur laut utama.

Akibatnya, harga bahan baku dasar seperti etilena, propilena, dan stirena mengalami kenaikan tajam. Produsen plastik di dalam negeri terpaksa menyesuaikan harga jual produk akhir untuk menutupi biaya tambahan tersebut.

Dampak kenaikan harga plastik

  • Industri manufaktur: Produsen kemasan, alat rumah tangga, dan komponen otomotif melaporkan kenaikan biaya produksi antara 15‑30 %.
  • Pengecer dan konsumen: Harga barang konsumen yang mengandung plastik, seperti botol minuman, tas belanja, dan mainan, naik secara langsung, menambah beban inflasi rumah tangga.
  • Pemerintah: Kenaikan harga plastik berpotensi memperlebar defisit anggaran jika subsidi atau kebijakan harga stabilisasi tidak diimplementasikan.

Berikut rangkuman perbandingan harga bahan baku utama sebelum dan sesudah konflik:

Bahan Baku Harga Sebelum Konflik (USD/ton) Harga Setelah Konflik (USD/ton) Kenaikan (%)
Etilena 1,200 1,680 40
Propilena 1,050 1,470 40
Stirena 900 1,260 40

Pemerintah Indonesia dan asosiasi industri telah mengajukan beberapa langkah penanggulangan, antara lain mempercepat diversifikasi sumber bahan baku, meningkatkan cadangan strategis, serta mengoptimalkan tarif impor guna menurunkan tekanan harga. Namun, proses adaptasi tersebut membutuhkan waktu, sehingga volatilitas harga diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *