Harga Minyak Meroket Menembus US$100/Barel Usai Serangan Kapal di Selat Hormuz – Apa Dampaknya Bagi Dunia?

Harga Minyak Meroket Menembus US$100/Barel Usai Serangan Kapal di Selat Hormuz – Apa Dampaknya Bagi Dunia?
Harga Minyak Meroket Menembus US$100/Barel Usai Serangan Kapal di Selat Hormuz – Apa Dampaknya Bagi Dunia?

Keuangan.id – 14 Maret 2026 | Pasar minyak global mengalami lonjakan tajam pada Kamis, 12 Maret 2026, ketika harga Brent menembus batas psikologis US$100 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) melaju di atas US$95 per barel. Kenaikan hampir 9 % ini dipicu oleh ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz secara permanen serta serangkaian serangan terhadap kapal-kapal tanker di wilayah tersebut.

Latihan Ketegangan di Selat Hormuz

Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, menyumbang sekitar satu per lima produksi minyak dunia setiap harinya. Pada sore hari sebelum pelaporan harga, seorang pembawa acara televisi pemerintah Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan peringatan tegas bahwa selat itu akan tetap ditutup. Ia juga menyinggung kemungkinan serangan lanjutan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.

Pernyataan tersebut muncul tak lama setelah Badan Energi Internasional (IEA) mengeluarkan peringatan bahwa pasokan minyak dapat berkurang signifikan bila kapal tidak dapat melanjutkan transit melalui Selat Hormuz. IEA menegaskan bahwa gangguan di jalur ini merupakan “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global”.

Dampak Langsung Terhadap Harga

Kenaikan harga minyak mentah tidak terjadi dalam vakum. Analisis Capital Economics memperkirakan bahwa harga akan berfluktuasi di kisaran US$90‑100 per barel selama beberapa minggu ke depan, tergantung pada evolusi konflik. Jim Reid, Kepala Penelitian Makroekonomi Global di Deutsche Bank, mengingatkan bahwa investor kini menghitung risiko konflik berkelanjutan yang dapat menimbulkan tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di negara‑negara maju.

Meski 32 negara ekonomi terbesar, termasuk Amerika Serikat, sepakat menambah 400 juta barel minyak ke pasar global, langkah ini dipandang tidak cukup untuk menetralkan penurunan pasokan. Selat Hormuz diperkirakan menghambat sekitar 15 juta barel minyak mentah dan 5 juta barel produk olahan setiap harinya. Penambahan 400 juta barel hanya mampu menutupi kekurangan tersebut dalam kira‑kira 26 hari, bila tidak ada gangguan tambahan.

Implikasi Ekonomi Global

Lonjakan harga minyak berpotensi menambah beban inflasi di banyak negara. Bagi negara‑negara importir minyak, biaya energi yang lebih tinggi dapat memicu kenaikan harga barang dan jasa, mempersempit daya beli konsumen. Di sisi lain, produsen minyak utama akan mencatat peningkatan pendapatan, namun keuntungan tersebut dapat tergerus oleh biaya operasional yang naik akibat ketegangan geopolitik.

Selain tekanan inflasi, pasar energi juga menghadapi ketidakpastian investasi. Investor cenderung menunda atau menyesuaikan proyek pengembangan infrastruktur energi baru bila risiko geopolitik meningkat. Hal ini dapat memperlambat transisi energi bersih yang sedang dijalankan oleh banyak pemerintah.

Reaksi Pemerintah dan Lembaga Internasional

Pemerintah Amerika Serikat dan sekutunya mengeluarkan pernyataan kesiapsiagaan untuk memastikan keamanan jalur pelayaran. NATO juga menyatakan akan meningkatkan kehadiran maritim di sekitar Selat Hormuz guna melindungi kapal dagang. Sementara itu, IEA berupaya meningkatkan cadangan strategis minyak dan mendorong diversifikasi rute transportasi, termasuk penggunaan jalur darat dan pelabuhan alternatif.

Di tingkat regional, negara‑negara di Timur Tengah yang bergantung pada pendapatan minyak berupaya menyeimbangkan antara menegakkan kedaulatan laut dan menjaga stabilitas pasar energi. Iran, yang baru saja menunjuk pemimpin baru, tampaknya menggunakan kontrol atas Selat Hormuz sebagai alat tawar dalam negosiasi politik dengan Barat.

Secara keseluruhan, dinamika di Selat Hormuz menegaskan betapa rapuhnya rantai pasokan energi global. Setiap gangguan di jalur utama dapat memicu reaksi berantai yang memengaruhi harga, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi secara luas.

Pengamat menilai bahwa jika ketegangan tidak mereda dalam beberapa minggu, harga minyak dapat tetap berada di level tinggi, menambah beban bagi konsumen dan menantang kebijakan moneter bank sentral di seluruh dunia. Oleh karena itu, pemantauan perkembangan geopolitik dan kebijakan energi internasional menjadi kunci bagi pelaku pasar dan pembuat kebijakan dalam mengelola risiko yang muncul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *