Harga Minyak Melesat di Atas $120 per Barel, Trump Klaim Ini Harga Kecil untuk Perdamaian Dunia

Harga Minyak Melesat di Atas $120 per Barel, Trump Klaim Ini Harga Kecil untuk Perdamaian Dunia
Harga Minyak Melesat di Atas $120 per Barel, Trump Klaim Ini Harga Kecil untuk Perdamaian Dunia

Keuangan.id – 09 Maret 2026 | Harga minyak dunia melesat tajam pada awal minggu ini, menembus level $120 per barel setelah ketegangan militer di Timur Tengah memicu penutupan Selat Hormuz dan pemotongan produksi oleh produsen utama. Lonjakan ini menandai kenaikan terbesar sejak 2022, ketika harga minyak pertama kali melewati $100 per barel pasca invasi Rusia ke Ukraina.

Menurut data perdagangan pada Senin, 9 Maret 2026, minyak mentah Brent naik lebih dari 20% menjadi $114,25 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencatat kenaikan 26,5% menjadi $114,9 per barel. Pada hari berikutnya, kontrak berjangka Brent melambung hingga $116,08 dan WTI mencapai $116,03. Peningkatan ini terjadi bersamaan dengan penutupan sebagian jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar satu per lima pasokan minyak dunia.

Faktor Pemicu Kenaikan Harga

  • Perang Iran‑Israel‑AS: Serangan gabungan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada 28 Februari 2026 memicu kekhawatiran pasar tentang gangguan pasokan jangka panjang.
  • Penutupan Selat Hormuz: Iran menghentikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, menghalangi aliran minyak dari Teluk Persia ke pasar internasional.
  • Pengurangan Produksi: Produsen Timur Tengah mengumumkan pemotongan produksi sebagai respons terhadap ketegangan militer, memperketat suplai global.

Akibatnya, harga minyak mentah global telah naik sekitar 50% sejak serangan gabungan tersebut, menandai kenaikan paling signifikan dalam hampir empat dekade.

Reaksi Pemerintah Amerika Serikat

Presiden Donald Trump, yang baru saja kembali ke Gedung Putih pada 3 Maret 2026, menanggapi lonjakan harga dengan sikap optimis. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menulis: “Harga minyak jangka pendek akan turun dengan cepat setelah ancaman nuklir Iran dihancurkan. Itu adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi keamanan dan perdamaian Amerika Serikat serta dunia. Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya.”

Menteri Energi AS, Chris Wright, menambahkan bahwa kenaikan harga bahan bakar di SPBU kemungkinan hanya bersifat sementara. Ia menekankan bahwa strategi peningkatan produksi domestik dan diversifikasi sumber energi akan mengurangi ketergantungan pada jalur laut yang rentan.

Dampak Ekonomi Regional

Di Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga BBM bersubsidi, khususnya Pertalite, tidak akan dinaikkan meskipun harga minyak dunia berada di atas $118 per barel. Sementara itu, pasar saham Asia menunjukkan penurunan signifikan; indeks IHSG anjlok 2,79% pada pembukaan perdagangan Senin, dipicu oleh kekhawatiran inflasi energi.

Rupiah juga melemah, diperdagangkan di Rp 16.986 per dolar AS, mencerminkan tekanan impor energi yang meningkat. Di Eropa, cadangan gas Inggris turun drastis hingga cukup untuk hanya 1,5 hari, menambah ketegangan energi global.

Proyeksi Harga ke Depan

Para analis memprediksi bahwa harga minyak akan kembali turun setelah konflik di Timur Tengah mereda dan jalur pelayaran dibuka kembali. Namun, ketidakpastian geopolitik tetap tinggi, dan fluktuasi harga dapat terus memengaruhi inflasi global, biaya produksi, serta kebijakan moneter bank sentral.

Secara keseluruhan, meskipun lonjakan harga minyak menimbulkan beban sementara bagi konsumen dan pelaku industri, pihak berwenang di Amerika Serikat meyakini bahwa biaya tersebut dapat diterima sebagai “harga kecil” untuk menjaga stabilitas keamanan regional dan mencegah eskalasi lebih lanjut.

Dengan tekanan geopolitik yang terus berubah, para pembuat kebijakan di seluruh dunia dihadapkan pada tantangan menyeimbangkan kebutuhan energi dengan upaya perdamaian dan keamanan internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *