Keuangan.id – 09 April 2026 | Jakarta, 9 April 2026 – Harga minyak mentah dunia kembali menguat tajam pada Kamis, 9 April 2026, setelah sempat turun signifikan pada hari sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, serta dinamika pasar internal Indonesia yang melibatkan Pertamina dan kebijakan biodiesel pemerintah.
Faktor Geopolitik Memicu Kenaikan Harga Minyak
Iran menuduh Amerika Serikat melanggar tiga poin utama dalam kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati selama dua pekan. Tuduhan tersebut mencakup serangan Israel di Lebanon, insiden drone yang memasuki wilayah udara Iran, serta penolakan hak Tehran untuk memperkaya uranium. Pernyataan keras Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, meningkatkan kekhawatiran pasar akan potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Akibatnya, pada hari Kamis harga minyak Brent untuk pengiriman Juni melompat 2,08% menjadi USD 96,83 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 2,86% menjadi USD 97,27 per barel. Kenaikan ini terjadi hanya sehari setelah harga minyak mentah AS mencatat penurunan harian terbesar sejak 2020, menegaskan betapa sensitif pasar terhadap sentimen geopolitik.
Respons Pemerintah Indonesia dan Langkah Pertamina
Di dalam negeri, Dewan Energi Nasional (DEN) menilai langkah strategis Pertamina dalam menampung produksi minyak mentah dari kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). SKK Migas menjamin seluruh krude yang dihasilkan oleh KKKS akan diolah di kilang Pertamina, menambah pasokan domestik hingga 62,6 ribu barel per hari. Anggota DEN, M. Kholid Syeirazi, menekankan bahwa mekanisme pasar harus tetap menjadi landasan, bukan pendekatan politik, untuk mengoptimalkan aliran produksi.
Penambahan pasokan ini diharapkan dapat menutup celah antara kebutuhan energi nasional dan fluktuasi harga minyak dunia. Dengan mengolah minyak domestik di kilang nasional, biaya logistik dapat ditekan, sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok energi dalam negeri.
Dampak Kenaikan Harga Minyak pada Sektor Konsumen: Minyak Goreng dan Biodiesel
Lonjakan harga minyak mentah juga berimbas pada harga bahan baku utama minyak goreng, yaitu crude palm oil (CPO). Profesor Anton Agus Setyawan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta menjelaskan bahwa CPO tidak hanya menjadi bahan baku minyak goreng, tetapi juga komponen penting dalam campuran biodiesel. Pemerintah Indonesia berencana meningkatkan proporsi CPO dalam biodiesel dari B40 (40% CPO) menjadi B50 pada pertengahan 2026.
Ketika harga minyak bumi global naik, produsen CPO cenderung memprioritaskan alokasi ke biodiesel yang memberikan margin lebih tinggi. Hal ini dapat menimbulkan trade‑off antara pasokan minyak goreng dan kebutuhan biodiesel, berpotensi menekan harga minyak goreng di pasar domestik.
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Harga Brent (Juni) | USD 96,83/barel |
| Harga WTI (Mei) | USD 97,27/barel |
| Tambahan Pasokan KKKS | 62,6 ribu barel/hari |
| Proporsi CPO dalam Biodiesel | B50 (target 2026) |
Secara keseluruhan, kombinasi antara tekanan geopolitik, kebijakan energi nasional, dan dinamika pasar komoditas memperkuat volatilitas harga minyak. Konsumen akhir, terutama rumah tangga yang mengandalkan minyak goreng, mungkin akan merasakan kenaikan harga di rak toko dalam beberapa minggu ke depan.
Para analis memperkirakan bahwa selama ketegangan antara Iran dan AS belum terselesaikan, serta permintaan energi global tetap kuat, harga minyak dunia akan berada pada kisaran atas USD 95 per barel. Di sisi lain, upaya pemerintah Indonesia mengoptimalkan produksi dalam negeri melalui Pertamina diharapkan dapat memberikan bantalan terhadap fluktuasi eksternal, sekaligus mendukung target energi terbarukan melalui peningkatan penggunaan biodiesel.
Dengan mekanisme pasar yang tetap dijaga, langkah-langkah ini dapat meningkatkan kemandirian energi nasional sekaligus melindungi konsumen dari goncangan harga yang berlebihan.











