Keuangan.id – 12 Maret 2026 | Jakarta – Harga emas dunia kembali berada di zona tekanan meski konflik di Timur Tengah terus memanas. Pada Rabu (11 Maret 2026), harga spot emas naik tipis 0,2% menjadi US$5.204,29 per ons, sementara kontrak berjangka turun 0,5% menjadi US$5.213,11 per ons. Gerakan ini mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh penguatan dolar AS dan volatilitas likuiditas global.
Latar Belakang Konflik
Perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang kini memasuki hari ke-12 tanpa tanda-tanda mereda menambah ketidakpastian geopolitik. Serangan udara, sanksi ekonomi, serta gangguan pada jalur energi menimbulkan kekhawatiran akan kenaikan harga minyak dan inflasi global. Pemerintah Indonesia dan otoritas pasar keuangan memantau perkembangan ini secara intensif.
Dampak pada Harga Emas
Secara historis, emas dipandang sebagai “safe haven” yang menguat saat ketegangan geopolitik meningkat. Namun, data terbaru menunjukkan pola yang tidak linier. Menurut laporan Investing.com, emas sempat mencapai level US$5.600 per ons pada akhir Januari, namun kemudian mengalami penurunan tajam menjelang pertengahan Maret. Penurunan ini dipicu oleh beberapa faktor:
- Profit taking oleh investor institusional setelah reli sebelumnya.
- Kenaikan yield US Treasury yang menarik aliran dana ke aset berbunga.
- Kebutuhan likuiditas cepat di pasar global.
- Gangguan logistik di Timur Tengah yang menunda distribusi fisik bullion.
Pengaruh Dolar AS
Dolar AS menguat tajam di tengah konflik, tercatat pada Rp16.858 per dolar pada pukul 09.12 WIB, menguat 5 poin (0,03%). Penguatan mata uang ini menurunkan daya beli emas bagi pembeli yang bertransaksi dalam mata uang lokal, sehingga menambah tekanan ke bawah pada harga spot. Analisis dari CNN Indonesia menegaskan bahwa pergerakan dolar menjadi salah satu penentu utama dalam pergeseran harga emas dalam jangka pendek.
Analisis Pakar
Ronny P. Sasmita, analis senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution, menyatakan bahwa “pasar keuangan tidak selalu bergerak secara linier dengan teori safe haven”. Ia menambahkan bahwa likuiditas global dan rebalancing portofolio menjadi motor utama penurunan harga emas saat ini.
Sementara itu, Syafruddin Karimi, pengamat ekonomi Universitas Andalas, menyoroti bahwa permintaan fisik emas di wilayah India dan sekitarnya melemah, sementara pasar bullion di Dubai mencatat diskon signifikan karena gangguan penerbangan. “Penurunan harga tidak menandakan emas kehilangan perannya, melainkan mencerminkan anomali distribusi dan penyesuaian pasar,” ujar Karimi.
Proyeksi Kedepan
Jika konflik di Timur Tengah terus berlangsung tanpa eskalasi besar, para analis memperkirakan harga emas akan kembali menguat ketika tekanan likuiditas mereda dan investor mencari perlindungan nilai jangka panjang. Namun, selama dolar AS tetap kuat dan yield obligasi meningkat, volatilitas tetap tinggi.
Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau dampak fluktuasi harga komoditas terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa, terutama mengingat defisit transaksi berjalan diproyeksikan meningkat.
Secara keseluruhan, meski emas masih dianggap sebagai aset perlindungan nilai, dinamika pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, kebutuhan likuiditas, dan strategi rebalancing portofolio daripada sekadar faktor geopolitik. Investor disarankan untuk memperhatikan indikator makroekonomi global serta kebijakan moneter Amerika Serikat sebelum mengambil keputusan investasi pada logam mulia.











