Keuangan.id – 20 Mei 2026 | Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi mulai mengubah perilaku konsumsi masyarakat di beberapa daerah. Banyak pemilik kendaraan yang biasa mengisi BBM jenis Dexlite kini rela mengorbankan waktu untuk ikut mengantre panjang demi mendapatkan Biosolar yang jauh lebih murah.
Fenomena ini memicu antrean kendaraan yang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Salah satu contoh terjadi di SPBU 14.251.583 Khatib Sulaiman, di mana Kepala Operasional SPBU Khatib Sulaiman, Asrul, tidak menampik bahwa disparitas harga yang kian melebar antara BBM subsidi dan non-subsidi menjadi pemicu utama pembengkakan volume antrean.
Pengguna Dexlite Beralih ke Solar Subsidi
Di tengah situasi ekonomi saat ini, beralih ke Solar subsidi dianggap sebagai pilihan yang lebih rasional bagi konsumen. Asrul menjelaskan bahwa banyak pemilik kendaraan yang biasanya mengisi bahan bakar jenis Dexlite, kini rela mematikan gengsi dan beralih ke solar subsidi.
Selain faktor lonjakan harga, Asrul menjelaskan bahwa carut-marut antrean di wilayahnya merupakan dampak berantai dari penutupan salah satu SPBU di kawasan By Pass oleh PT Pertamina (Persero). SPBU tersebut dijatuhi sanksi penutupan sementara karena kedapatan melakukan praktik penjualan yang tidak sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP).
Antrean Panjang di SPBU
Akibat skorsing tersebut, ratusan kendaraan pengguna solar yang biasanya mengantre di sana terpaksa bermigrasi dan memadati SPBU lain, termasuk SPBU Khatib Sulaiman ini. Meski antrean kendaraan terus terjadi dan belum terurai, Asrul menegaskan bahwa dari sisi hulu, pasokan solar di fasilitas yang dipimpinnya sebenarnya berada dalam posisi yang aman dan mencukupi.
Tercatat pada Selasa pagi, stok solar yang tersedia mencapai 14 kiloliter. Jumlah tersebut dinilai sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan kendaraan hingga sore hari. Terlebih lagi, pihak SPBU juga telah menjadwalkan pengiriman tangki tambahan sebesar 16 kiloliter pada hari yang sama.
Pengguna Dexlite di Bengkulu Beralih ke Bio Solar
Fenomena serupa juga terjadi di Bengkulu, di mana banyak pemilik kendaraan diesel yang sebelumnya menggunakan bahan bakar nonsubsidi kini beralih ke Bio Solar karena dianggap lebih terjangkau. Namun, perpindahan besar-besaran itu justru memicu antrean panjang di hampir seluruh SPBU.
Wilman, seorang pemilik mobil diesel di Mukomuko, mengaku tidak lagi mampu bertahan menggunakan bahan bakar nonsubsidi. Kenaikan harga membuat biaya operasional usahanya membengkak dan menggerus keuntungan harian. Ia mengatakan antrean panjang sudah menjadi rutinitas baru bagi para pengguna kendaraan diesel.
Tekanan kebutuhan membuat sebagian pemilik kendaraan mencari alternatif lain dengan membeli Bio Solar eceran. Namun kondisi di lapangan justru semakin memberatkan. Ketersediaan solar eceran semakin langka, sementara harganya melonjak tajam alias melangit.
Wilman menyebut harga satu jeriken Bio Solar eceran yang sebelumnya berkisar Rp300 ribu kini naik hingga Rp450 ribu. Kenaikan itu dinilai sangat memberatkan masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari kendaraan diesel.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Mukomuko. Sejumlah SPBU di wilayah Bengkulu dilaporkan mengalami lonjakan antrean kendaraan diesel dalam beberapa pekan terakhir. Petugas SPBU bahkan harus mengatur kendaraan secara bergantian agar antrean tidak meluas hingga ke badan jalan.
Seorang operator SPBU di Bengkulu yang enggan disebutkan namanya mengatakan peningkatan antrean terjadi hampir setiap hari. Menurutnya, mayoritas kendaraan yang datang merupakan pengguna diesel yang sebelumnya jarang membeli Bio Solar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga Dexlite telah mempengaruhi perilaku konsumen dan memicu antrean panjang di SPBU. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyesuaian harga dan peningkatan pasokan BBM untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dalam beberapa minggu terakhir, harga Dexlite terus melonjak, sehingga banyak pengguna Dexlite beralih ke Solar subsidi. Hal ini menimbulkan antrean panjang di SPBU dan mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan cepat untuk menstabilkan harga BBM dan meningkatkan pasokan Solar subsidi.











