Keuangan.id – 24 April 2026 | Ketegangan di Selat Hormuz kembali memuncak setelah blokade AS yang diterapkan sejak 13 April menimbulkan serangkaian aksi balasan dari Iran.
Blokade AS dan Taktik “Kapal Hantu”
Data firma analisis Vortexa menunjukkan sekitar 10,7 juta barel minyak mentah Iran berhasil menembus zona blokade melalui enam kapal tanker yang mematikan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) selama transit. Tanpa sinyal AIS, kapal beroperasi secara “gelap” sehingga radar militer kesulitan mengidentifikasi mereka. Blokade tidak diberlakukan di pelabuhan Iran atau di dalam Selat Hormuz, melainkan pada area fleksibel seluas 300 mil ke barat, antara perbatasan Pakistan‑Iran dan sudut barat Oman.
Respons Militer Amerika Serikat
Pihak Angkatan Laut Amerika Serikat (AL) melaporkan telah mengarahkan 29 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan, sementara tiga tanker berbendera Iran dicegat di perairan Asia pada 22 April. Secara total, Vortexa mencatat 35 transit yang berhasil melewati blokade antara 13‑22 April. Namun, militer AS terus menegakkan aturan, menahan kapal yang dianggap melanggar serta menambah patroli di Selat Hormuz.
Aksi Iran: Penyitaan Kapal dan Penembakan
Iran meningkatkan tekanan dengan menyita dua kapal kargo milik perusahaan Eropa—Epaminondas (berlambang Yunani) dan MSC Francesca (berlambang Swiss). Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menuduh kapal-kapal tersebut melanggar izin dan menavigasi tanpa persetujuan. Dalam video resmi, pasukan bertopeng Iran terlihat menyergap MSC Francesca menggunakan kapal cepat dan drone laut, bahkan mencoba memanjat ke lambung kapal dengan senapan di tangan.
Selain penyitaan, IRGC dilaporkan menembaki sebuah kontainer berlayar dengan bendera Liberia tanpa menimbulkan kerusakan signifikan, menunjukkan kemampuan serangan cepat di wilayah tersebut.
Dampak Ekonomi Global
Penembusan minyak melalui taktik “kapal hantu” dan aksi penyitaan kapal memperparah ketidakpastian pasar energi. Harga Brent terus berada di atas 100 dolar per barel, sementara negara‑negara pengimpor minyak memperkirakan penurunan pendapatan hingga 15 % bila blokade tetap berlangsung.
Iran juga mengumumkan penerapan tarif pelayaran di Selat Hormuz, mengalihkan sebagian pendapatan ke rekening bank sentral. Pendapatan tol ini diharapkan menutupi sebagian kerugian akibat sanksi ekonomi Barat.
Kontroversi Internal di Angkatan Laut Amerika
Di tengah tekanan eksternal, Kepala Angkatan Laut Amerika Serikat terpaksa mengundurkan diri setelah sejumlah laporan internal menuding kegagalan koordinasi dan kurangnya kebijakan adaptif terhadap taktik Iran. Pengunduran diri ini menambah gejolak politik di Washington, dimana Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan blokade tetap “sangat efektif” meski menghadapi kritik internasional.
Presiden Donald Trump, yang memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu, menyatakan bahwa blokade maritim tidak akan dicabut sampai Iran menghentikan semua aksi militer di Selat Hormuz.
Ketegangan geopolitik ini menempatkan Selat Hormuz sebagai arena konfrontasi utama antara dua kekuatan dunia, dengan risiko eskalasi lebih lanjut jika tidak ada solusi diplomatik yang memadai.
Situasi di Selat Hormuz masih sangat dinamis. Iran menegaskan tidak akan membuka kembali selat hingga blokade AS diangkat, sementara Amerika Serikat tetap bersikeras bahwa blokade adalah instrumen kunci untuk menekan Tehran secara ekonomi. Kedua belah pihak tampak berada pada titik kebuntuan, dengan pasar energi global menjadi saksi bisu dari persaingan strategis ini.











