Keuangan.id – 05 Mei 2026 | Pada Selasa, 5 Mei 2026, rangkaian gempa bumi mengguncang beberapa wilayah Indonesia, menandai hari yang penuh aktivitas seismik. Kejadian ini mencakup gempa di perairan Jawa, gempa di Jawa Barat, serta dua gempa di wilayah Maluku. Masing‑masing gempa memiliki karakteristik magnitude, kedalaman, dan dampak yang berbeda, menimbulkan perhatian luas dari BMKG dan masyarakat.
Gempa di Perairan Jawa
Gempa pertama tercatat di perairan Jawa pada siang hari Selasa, 5 Mei. Meskipun data kedalaman belum dipublikasikan secara lengkap, gempa ini dideteksi oleh jaringan seismik nasional dan dilaporkan memiliki magnitude yang signifikan, cukup untuk menimbulkan sensasi getaran di daratan sekitarnya. BMBM menyatakan bahwa gempa di zona laut biasanya menimbulkan risiko tsunami yang lebih rendah dibandingkan gempa darat, namun tetap dipantau secara ketat.
Gempa di Jawa Barat
Pada pagi yang sama, wilayah Pangandaran di Jawa Barat dilanda gempa dengan magnitude 4,2. Getaran terasa hingga ke kota Tasikmalaya, menandakan penyebaran energi yang cukup luas. Gempa ini terjadi pada kedalaman menengah, memperkuat potensi kerusakan pada struktur bangunan tidak tahan gempa. Tidak ada laporan kerusakan serius atau korban jiwa, namun beberapa rumah mengalami retakan minor pada dinding.
Selain itu, pada Senin tengah malam, tepatnya sekitar pukul 00.30 WIB, wilayah Garut mengalami gempa berkekuatan lebih kecil, magnitude 1,8. Meskipun intensitasnya rendah, gempa ini menambah daftar aktivitas seismik yang terjadi dalam rentang 24 jam terakhir.
Gempa di Maluku
Di bagian timur negara, dua gempa terjadi hampir bersamaan di wilayah Maluku. Gempa pertama memiliki magnitude 4,5, sementara gempa berikutnya tercatat magnitude 4,4. Kedua gempa ini terjadi pada kedalaman yang relatif dangkal, meningkatkan kemungkinan terasa oleh penduduk setempat. Laporan awal menyebutkan bahwa gempa terasa di beberapa pulau utama, namun tidak menimbulkan kerusakan signifikan.
BMKG menegaskan bahwa wilayah Maluku memang berada dalam zona rawan tektonik karena pertemuan lempeng Indo‑Australia dan Pasifik. Oleh karena itu, aktivitas gempa dengan magnitude di atas 4,0 bukanlah hal yang luar biasa di wilayah ini.
Respon dan Tindakan BMKG
Setelah masing‑masing gempa tercatat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera mengeluarkan peringatan dini serta memantau potensi tsunami. Pada gempa di perairan Jawa, peringatan tsunami dikeluarkan selama 30 menit, namun tidak ada laporan gelombang tinggi yang mencapai pantai. Pada gempa Jawa Barat dan Maluku, peringatan tsunami tidak diperlukan karena kedalaman yang lebih dalam dan magnitude yang tidak memicu pergerakan laut signifikan.
BMKG juga mengirimkan tim lapangan ke daerah‑daerah terdampak untuk melakukan verifikasi lapangan, mengumpulkan data intensitas dirasakan (MMI), serta mendata kerusakan struktural. Tim tersebut melaporkan bahwa sebagian besar bangunan di Pangandaran masih dalam kondisi aman, namun disarankan untuk melakukan inspeksi lebih lanjut pada rumah‑rumah yang mengalami retakan.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Meski tidak ada korban jiwa, gempa‑gempa ini memberikan dampak psikologis pada penduduk setempat. Pihak berwenang daerah mengadakan sosialisasi tentang tindakan darurat, termasuk cara evakuasi, penggunaan kotak pasir, dan pentingnya memeriksa kondisi bangunan setelah gempa. Sektor pariwisata di Pangandaran, yang bergantung pada wisata pantai, mengalami penurunan kunjungan singkat karena kekhawatiran wisatawan.
Di Maluku, aktivitas gempa menambah beban pada infrastruktur yang sudah rapuh pasca‑bencana sebelumnya. Pemerintah daerah berjanji mempercepat perbaikan jalan dan fasilitas umum yang terdampak, sekaligus meningkatkan program mitigasi bencana.
Langkah Ke Depan
BMKG menegaskan bahwa Indonesia tetap berada dalam zona seismik paling aktif di dunia. Oleh karena itu, peningkatan jaringan seismometer dan sistem peringatan dini menjadi prioritas utama. Masyarakat diimbau untuk selalu siap sedia dengan perlengkapan darurat, mengikuti arahan resmi, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Secara keseluruhan, rangkaian gempa pada 5 Mei 2026 menunjukkan betapa dinamisnya aktivitas tektonik di wilayah kepulauan. Kesigapan pihak berwenang dalam memberikan informasi dan mengkoordinasikan respon darurat menjadi kunci mengurangi dampak potensial di masa mendatang.











