Keuangan.id – 15 Maret 2026 | Pada hari Jumat, 13 Maret 2026, Indonesia dilanda dua gempa kuat secara berurutan. Gempa pertama berkekuatan magnitudo 5,4 mengguncang wilayah Sukabumi, Jawa Barat, sekitar pukul 02:18 WIB, sementara beberapa menit kemudian, pada pukul 03:04 WIB, gempa berukuran 5,3 terjadi di kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Kedua peristiwa ini dirasakan hingga daerah sekitarnya, termasuk Cianjur, Bandung, serta Sintang, menimbulkan kepanikan dan menambah kekhawatiran masyarakat terhadap aktivitas seismik yang meningkat di wilayah nusantara.
Data Teknis Gempa
| Waktu (WIB) | Magnitudo | Lokasi Pusat Gempa | Kedalaman | Skala MMI | Potensi Tsunami |
|---|---|---|---|---|---|
| 02:18:20 | 5,4 | Laut, 115 km Barat Daya Kota Sukabumi | 43 km | Terasa kuat di Sukabumi, Cianjur, sebagian Bandung | Tidak berpotensi |
| 03:04:04 | 5,3 | Pusat darat, Melawi, Kalimantan Barat | ?? km (laporan belum lengkap) | Terasa di Melawi, Sintang | Tidak berpotensi |
Selain dua gempa utama tersebut, BMKG mencatat gempa berukuran 2,7 di Pangandaran, Jawa Barat, serta rangkaian gempa susulan berintensitas lebih kecil pada sore hari di wilayah Sukabumi, dengan magnitudo 4,1 pada 15 Maret 2026 yang dipicu oleh sesar Cimandiri.
Analisis Geologi dan Penyebab
Sesar Cimandiri, yang membentang dari Padalarang hingga Pelabuhan Ratu, menjadi penyebab utama gempa darat di Sukabumi. Aktivitas sesar ini bersifat tektonik dan dapat menghasilkan guncangan yang cukup kuat meskipun berjarak jauh dari permukaan laut. Di Kalimantan Barat, gempa Melawi menandai kejadian seismik yang relatif jarang, mengingat wilayah tersebut lebih dikenal dengan gempa tektonik lemah. Pakar geologi menilai bahwa pergerakan lempeng Indo-Australia yang menabrak lempeng Eurasia dapat menimbulkan tekanan pada zona sesar di pulau Jawa dan Kalimantan, memicu gempa berukuran sedang hingga kuat.
Dampak pada Masyarakat dan Infrastruktur
- Di Sukabumi, getaran kuat menyebabkan beberapa bangunan berusia tua mengalami retakan pada dinding dan atap, serta menimbulkan kerusakan pada instalasi listrik di beberapa rumah.
- Di Cianjur, warga melaporkan suara gemuruh yang cukup keras sehingga menimbulkan kepanikan, meskipun tidak ada kerusakan struktural yang signifikan.
- Di Melawi, gempa dirasakan hingga wilayah Sintang; laporan sementara menunjukkan beberapa rumah kayu mengalami kerusakan ringan, sementara fasilitas publik seperti sekolah dan balai desa mengalami kerusakan minor.
Respons Pemerintah dan Lembaga Penanggulangan
BMKG bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukabumi dan Melawi segera mengeluarkan himbauan untuk warga agar memeriksa kondisi bangunan, menghindari penggunaan lift, dan menyiapkan tas siaga bencana. Kedua BPBD juga menyiapkan tim evakuasi dan posko sementara di titik-titik rawan, serta memastikan jalur komunikasi tetap terbuka melalui kanal resmi seperti InfoBMKG dan aplikasi seluler terkait.
Langkah Mitigasi Jangka Pendek
- Periksa struktur bangunan secara menyeluruh, terutama pada bagian dinding dan atap yang menunjukkan retakan.
- Hindari berada di dalam ruangan yang berisiko runtuh saat gempa susulan terjadi.
- Pastikan persediaan air bersih, makanan tahan lama, dan perlengkapan P3K dalam tas siaga.
- Ikuti informasi resmi dari BMKG dan BPBD melalui media sosial resmi, radio, atau aplikasi seluler.
- Laporkan kerusakan atau bahaya potensial kepada pihak berwenang sesegera mungkin.
Dengan rangkaian gempa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, para ahli menekankan pentingnya kesiapsiagaan berkelanjutan, terutama di wilayah yang berada dekat dengan sesar aktif seperti Cimandiri. Masyarakat diimbau untuk tidak panik, namun tetap waspada dan mengikuti prosedur keselamatan yang telah disosialisasikan.
Secara keseluruhan, gempa M5,4 di Sukabumi dan M5,3 di Melawi menunjukkan dinamika tektonik Indonesia yang terus aktif. Pemerintah, lembaga ilmiah, dan masyarakat perlu bekerja sama dalam upaya mitigasi, pemantauan, serta edukasi guna meminimalisir dampak bencana di masa yang akan datang.
