Keuangan.id – 22 April 2026 | Jepang mengalami guncangan kuat pada Senin (20/4/2026) ketika gempa dengan magnitudo 7,7 terjadi di perairan Pasifik lepas pantai prefektur Iwate, wilayah timur Honshu. Gempa ini tidak hanya dirasakan hingga ratusan kilometer di ibu kota Tokyo, tetapi juga memicu gelombang tsunami setinggi 80 cm yang melanda pelabuhan Kuji dan beberapa lokasi lain di daerah utara negara tersebut.
Detail Gempa dan Tsunami
Menurut Badan Meteorologi Jepang (JMA), pusat gempa berada pada koordinat 39,8° lintang utara dan 143,2° bujur timur, dengan kedalaman yang memungkinkan energi seismik menyebar luas. Awal peringatan tsunami menyebutkan potensi ketinggian hingga tiga meter, namun setelah pemantauan lebih lanjut, gelombang tertinggi yang tercatat hanya mencapai 80 cm. Gelombang ini menghantam pelabuhan Kuji, Iwate, serta beberapa wilayah pesisir lainnya dalam rentang waktu beberapa jam setelah gempa.
Dampak pada Penduduk dan Infrastruktur
Enam orang dilaporkan terluka, dua di antaranya mengalami luka serius, menurut pernyataan Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana (FDMA). Semua korban dirawat di fasilitas medis terdekat dan tidak ada laporan kematian. Selain itu, tidak ada kebakaran atau kerusakan signifikan pada fasilitas penting seperti pembangkit listrik atau jaringan transportasi. Pemerintah daerah setempat mengeluarkan arahan evakuasi tidak wajib kepada lebih dari 182.000 penduduk, mengingat potensi gempa susulan dan kemungkinan gelombang tsunami lanjutan.
Peringatan Risiko Gempa Super Besar
JMA menegaskan bahwa setelah gempa M 7,7, probabilitas terjadinya gempa susulan dengan magnitudo 8,0 atau lebih tinggi meningkat secara relatif dibandingkan kondisi normal. Peringatan ini dikeluarkan beberapa jam setelah gempa utama, sebagai langkah antisipatif untuk menyiapkan respons darurat bila terjadi guncangan lebih kuat dalam beberapa hari ke depan.
Sejarah Gempa Bawah Laut di Jepang
Jepang terletak di zona “Cincin Api” Pasifik, pertemuan empat lempeng tektonik utama, menjadikannya salah satu negara paling rawan gempa di dunia. Setiap tahun negara ini mencatat sekitar 1.500 guncangan, menyumbang hampir 18% dari total gempa bumi global. Meskipun kebanyakan gempa berskala ringan, peristiwa besar seperti gempa bawah laut M 9,0 pada tahun 2011 masih menjadi ingatan kolektif, mengingat tsunami dahsyat yang menewaskan lebih dari 18.000 orang dan memicu krisis nuklir di Fukushima.
Tindakan Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah Jepang terus memperkuat sistem peringatan dini dan melaksanakan simulasi evakuasi secara rutin. Pada saat gempa M 7,7 ini, petugas darurat segera menyiapkan pusat penampungan sementara, sementara tim medis berkoordinasi untuk menanggapi korban luka. Warga diminta untuk mengikuti instruksi resmi, menghindari area pesisir berisiko, dan tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dalam 24‑48 jam ke depan.
Secara keseluruhan, meskipun gempa M 7,7 menghasilkan tsunami berukuran terbatas dan menimbulkan beberapa luka, respons cepat otoritas dan kesiapsiagaan masyarakat membantu mencegah kerusakan yang lebih parah. Namun, peringatan akan kemungkinan gempa susulan mengingatkan Jepang untuk tetap berada dalam keadaan siaga, mengingat sejarah panjang aktivitas seismik di wilayah tersebut.
