Keuangan.id – 06 Mei 2026 | Jakarta, 6 Mei 2026 – Selebgram Clara Shinta kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan secara terbuka bahwa suaminya, Muhammad Alexander Assad, terlibat dalam video call sex (VCS) dengan seorang perempuan bernama Tri Indah Ramadhani. Insiden yang terjadi pada awal April di Bangkok ini memicu serangkaian langkah hukum, medis, dan psikologis yang kini tengah berjalan di Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
Pengaduan ke Komnas Perempuan dan Somasi Rp10,7 Miliar
Clara melaporkan peristiwa VCS tersebut ke Komnas Perempuan pada 4 Mei 2026, ditemani kuasa hukumnya, Sunan Kalijaga. Selain mengadu perilaku suaminya, ia juga menerima somasi sebesar Rp10,7 miliar dari pihak perempuan yang terlibat dalam VCS, menuntut ganti rugi. Clara menegaskan bahwa Komnas Perempuan mendengarkan kasusnya bukan sekadar dari sudut pandang hukum, melainkan juga sebagai perlindungan hak perempuan.
Langkah Hukum: Gugatan Cerai
Setelah mengumpulkan bukti VCS, Clara mengajukan gugatan cerai pada 14 April 2026. Proses perceraian kini sedang diproses di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Alexander, yang dikenal sebagai pengusaha di bidang mineral, batu bara, dan rental mobil premium, menghadapi tuntutan pembagian harta serta hak asuh anak.
Dampak Psikologis dan Pengobatan Psikiater
Kondisi emosional Clara terguncang berat. Ia mengaku mengalami stres, kecemasan, dan gangguan tidur. Untuk menjaga stabilitas mental, Clara telah menjalani pengobatan rutin selama dua minggu terakhir di bawah pengawasan psikiater. “Saya sudah minum obat secara teratur, sehingga lebih kuat dan tenang saat berbicara di depan publik,” ujar Clara dalam pernyataan di Komnas Perempuan.
Pemisahan Rumah dan Pembatasan Komunikasi
Untuk menghindari konflik lebih lanjut, Clara memutuskan tidak lagi tinggal serumah dengan Alexander. Semua bentuk komunikasi kini hanya melalui kuasa hukum masing-masing. “Jika ingin berkomunikasi, bisa melalui pak Sunan. Dengan cara ini, emosi kami tidak mudah terpicu,” jelasnya.
Pengaruh Terhadap Anak
Pasangan ini memiliki satu anak. Anak mereka yang masih di bawah umur mulai merasakan ketidakhadiran sang ayah. Clara menyatakan bahwa pembatasan komunikasi bertujuan melindungi kesejahteraan psikologis anak dari pertengkaran yang berulang.
Reaksi Publik dan Media Sosial
Kasus VCS ini menjadi topik hangat di media sosial. Netizen membagi pendapat antara dukungan terhadap Clara sebagai korban dan kritik terhadap penyebaran video pribadi. Meskipun begitu, Clara menegaskan fokusnya tetap pada pemulihan diri dan proses hukum, bukan pada sensasi publik.
Kesimpulan
Kasus VCS yang melibatkan suami Clara Shinta menyoroti tantangan hukum, kesehatan mental, dan dinamika keluarga dalam era digital. Dengan pengobatan psikiater, pemisahan rumah, dan jalur hukum yang ditempuh, Clara berupaya memulihkan kesejahteraan pribadi sekaligus menuntut keadilan. Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau oleh publik dan lembaga terkait.
