Keuangan.id – 03 April 2026 | Stadion Bilino Polje di Zenica menjadi saksi pertarungan sengit antara Bosnia-Herzegovina dan Italia pada babak playoff yang menentukan tiket ke Piala Dunia 2026. Dalam adu penalti yang menegangkan, Bosnia berhasil menumbangkan Italia dengan skor 4-1, mengukir sejarah pertama bagi tim Balkan tersebut untuk melaju ke turnamen terbesar sepak bola dunia.
Jalannya Pertandingan
Italia membuka laga dengan serangan cepat dan berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-15 lewat gol Moise Kean. Namun, Bosnia yang dipimpin oleh pelatih Sergej Barbarez tidak menyerah. Pada menit ke-79, Haris Tabakovic mencetak gol penyama kedudukan, memaksa pertandingan berlanjut hingga adu penalti setelah 120 menit.
Di babak shootout, semua eksekutor Bosnia berhasil mengeksekusi tendangan mereka, sementara Italia gagal pada tendangan pertama dan ketiga yang diambil oleh Francesco Pio Esposito dan Bryan Cristante. Gelandang Gianluigi Donnarumma yang menjaga gawang Italia tidak mampu menahan tekanan, dan Bosnia melaju ke Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Reaksi Pemain dan Tokoh Publik
Setelah kemenangan, bek tengah Bosnia, Tarik Muharemovic, mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian tim. Ia menekankan pentingnya kerja keras dan dedikasi, sekaligus menghormati lawan mereka. “Kami sangat menghargai Italia, teman-teman, dan saudara-saudara kami. Mereka berjuang keras meski kehilangan satu pemain,” ujar Muharemovic.
Di sisi lain, Jay Idzes, kapten timnas Indonesia yang bermain di Sassuolo, menyampaikan rasa hormatnya kepada Italia meski menyaksikan kekalahan mereka. “Saya turut prihatin untuk mereka,” kata Idzes dalam wawancara pasca pertandingan.
Gairah Kritik di Tanah Italia
Kegagalan Italia menimbulkan gelombang kritik tajam. Pelatih Gian Piero Gattuso, yang dipimpin oleh tekanan publik, menyatakan bahwa tim tidak akan melanjutkan mandatnya setelah hasil ini. Gattuso menegaskan bahwa keputusan akhir akan diambil oleh federasi, namun menambah beban pada situasi yang sudah tegang.
Selain itu, mantan pemain dan aktor Alessandro Gassmann melontarkan sindiran pedas melalui akun media sosialnya. Gassmann menyoroti perbedaan nilai pasar pemain Bosnia dan Italia, mengutip data Transfermarkt yang menunjukkan bahwa pemain Bosnia termahal, Demirovic, bernilai 22 juta euro, lebih tinggi daripada nilai beberapa pemain Italia seperti Mancini dan Politano. Ia juga menuding Presiden FIGC, Gabriele Gravina, dengan komentar bahwa upaya “refondare il calcio italiano” sebaiknya dipikirkan oleh mereka yang belum pernah gagal tiga kali berturut‑turut di kualifikasi dunia.
Gassmann menutup kritiknya dengan sindiran kepada profesi lain, “Selamat bekerja kepada para profesional tenis, voli, rugby, ski, atletik, curling, dan vela,” menandakan kelelahan publik terhadap kegagalan berulang tim nasional.
Implikasi Finansial dan Teknis
Keputusan Italia untuk memamerkan jersey Piala Dunia hanya 10 hari sebelum laga melawan Bosnia menjadi sorotan. Meskipun tampak optimis, langkah tersebut kini dianggap sebagai simbol kebanggaan yang berakhir tragis. Pada saat yang sama, nilai pasar beberapa pemain Italia menurun tajam setelah kegagalan, dengan Alessandro Bastoni dan Sandro Tonali menempati peringkat kedua dan ketiga dalam penilaian Transfermarkt, masing‑masing 70 dan 80 juta euro.
- Demirovic (Bosnia) – 22 juta € (nilai tertinggi)
- Bastoni (Italia) – 70 juta €
- Tonali (Italia) – 80 juta €
Penurunan nilai ini menambah tekanan pada klub-klub Italia untuk menata kembali strategi transfer dan pengembangan pemain muda.
Harapan Bosnia ke Piala Dunia 2026
Keberhasilan Bosnia membuka peluang besar bagi negara kecil ini untuk menampilkan bakatnya di panggung global. Muharemovic menegaskan bahwa lolos ke Piala Dunia hanyalah awal, dan tim bertekad untuk berprestasi lebih baik di kompetisi selanjutnya.
Para pendukung Bosnia menyambut kemenangan dengan perayaan semarak di jalan‑jalan Zenica, menandai momen bersejarah yang akan dikenang dalam sejarah sepak bola negara tersebut.
Kesimpulannya, kegagalan Italia menimbulkan krisis kepemimpinan dan menyoroti perlunya reformasi struktural dalam sepak bola nasional, sementara Bosnia menatap masa depan dengan optimisme dan keyakinan untuk menorehkan prestasi di Piala Dunia 2026.
