Keuangan.id – 20 April 2026 | Pertandingan antara NEC vs Feyenoord di Eredivisie kembali menjadi sorotan utama setelah serangkaian keputusan tak terduga yang memicu perdebatan di kalangan pendukung dan media. Pada laga krusial tersebut, pelatih Feyenoord Robin van Persie memutuskan menurunkan pemain yang tidak terduga, sementara bekas bintang Chelsea Raheem Sterling kembali menjadi bahan perbincangan setelah dikeluarkan dari starting XI.
Kontroversi Pra-Pertandingan
Menjelang konfrontasi NEC vs Feyenoord, tekanan melanda keduanya. Robin van Persie menanggapi spekulasi tentang pilihan skuad dengan menegaskan bahwa keputusan menurunkan Sterling ke bangku cadangan didasari oleh kondisi kebugaran yang belum optimal. Pernyataan tersebut menimbulkan reaksi keras dari pemain Feyenoord, yang menyebut keputusan itu “ridiculous” di media sosial.
Di sisi lain, pelatih NEC, Dick Schreuder, mencoba memanfaatkan situasi tersebut dengan menyiapkan formasi tiga bek yang fleksibel, berharap dapat menutup celah yang biasanya dimanfaatkan oleh serangan sayap Feyenoord. Namun, ketegangan meningkat ketika Luciano Valente, pemain muda Feyenoord, mengkritik hasil akhir pertandingan sebagai “real disgrace”.
Kejutan Formasi dan Pilihan Pemain
Robin van Persie mengejutkan publik dengan menurunkan pemain bertahan yang belum pernah mendapat kesempatan bermain penuh di kompetisi utama. Keputusan itu menimbulkan spekulasi apakah pelatih mencoba memberi ruang bagi pemain berusia 35 tahun yang dipuji oleh mantan pemain Johan Derksen. Sementara itu, NEC tetap mengandalkan lini tengah berpengalaman dengan Sami Ouaissa dan Tjaronn Chery memimpin serangan.
Reaksi Pemain dan Dampak Psikologis
Setelah hasil akhir NEC vs Feyenoord berakhir imbang 1-1, kedua tim mengekspresikan perasaan berbeda. Di NEC, Ouaissa mengaku merasa tertekan dan memilih menghabiskan waktu bersama keluarga serta tiga sahabat terdekat untuk memulihkan mental. Ia menyatakan, “Ini adalah pengalaman terburuk bagi seorang pemain, tetapi kami harus bangkit kembali.”
Di Feyenoord, Sterling mengakui rasa frustrasi namun berjanji akan kembali lebih kuat setelah masa pemulihan. Sementara van Persie menegaskan bahwa keputusan taktik tersebut hanyalah bagian dari strategi jangka panjang untuk menyiapkan tim menghadapi sisa musim.
Akhir yang Pahit di Final KNVB Beker
Meski sempat menumbuhkan harapan setelah hasil imbang melawan Feyenoord, NEC harus menghadapi kenyataan pahit di final KNVB Beker melawan AZ Alkmaar. Pertandingan yang digelar di De Kuip, Rotterdam, berakhir dengan skor 5-1 untuk kemenangan AZ, menambah rekor kelima kegagalan NEC di final kompetisi tersebut.
Gol pembuka AZ dicetak oleh Mees de Wit pada menit ke-32, diikuti dua gol tambahan oleh Sven Mijnans dan Peer Koopmeiners. Koki Ogawa berhasil mengurangi selisih pada menit ke-78, namun tidak cukup mengubah alur permainan. Troy Parrott menambah gol keempat pada waktu tambahan pertama, sementara Kees Smit menutup skor dengan gol kelima pada menit tambahan akhir.
Keputusan taktis Dick Schreuder di final ini, termasuk penggunaan back three dengan Eli Dasa, Philippe Sandler, dan Deveron Fonville, tidak berhasil menghentikan dominasi AZ. Pemain NEC seperti Bryan Linssen mengakui bahwa tim gagal mengeksekusi rencana yang telah dipersiapkan.
Masa Depan NEC: Target Liga dan Liga Champions
Setelah kegagalan di final, NEC masih berada di posisi ketiga klasemen Eredivisie dengan tiket ke putaran kualifikasi ketiga Liga Champions. Pertandingan krusial berikutnya melawan FC Twente menjadi kesempatan untuk mengembalikan kepercayaan diri tim.
Pelatih Schreuder menekankan pentingnya memanfaatkan momentum positif dari posisi klasemen tinggi, sambil belajar dari kegagalan di cup. “Kami harus kembali ke lapangan dengan senyum, menunjukkan bahwa kami dapat bangkit setelah kekalahan,” ujar dia dalam konferensi pers menjelang laga melawan Twente.
Secara keseluruhan, dinamika NEC vs Feyenoord dan hasil akhir KNVB Beker mencerminkan tantangan mental serta taktik yang dihadapi klub-klub Eredivisie. Bagaimana NEC menanggapi tekanan ini akan menentukan apakah mereka mampu mengubah nasib menjadi juara di kompetisi domestik maupun internasional.











