Keuangan.id – 18 Mei 2026 | Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, baru-baru ini menggelar kirab budaya di Bandung yang menuai kritik tajam dari masyarakat. Kirab tersebut dilaksanakan pada 16 Mei 2024 dan melibatkan parade kuda dan kereta kencana.
Acara tersebut dinilai tidak relevan di tengah kondisi ekonomi yang tercekik, di mana nilai tukar rupiah sempat menyentuh angka Rp17 ribuan per dolar AS. Banyak masyarakat yang berjibaku dengan mahalnya harga kebutuhan pokok dan tingginya angka pengangguran di Jawa Barat.
Kritik pedas pun mengalir deras di kolom komentar. Publik menilai perayaan tersebut sangat kontras dengan kondisi ekonomi nasional dan dianggap jauh dari urgensi. Mereka menilai bahwa pemimpin atau tokoh publik seharusnya lebih fokus memikirkan solusi konkret atas masalah riil, bukan malah menghabiskan sumber daya untuk kegiatan seremonial yang menutup akses publik.
Beberapa warga juga menyentil bahwa gaya kepemimpinan teatrikal seperti ini bukanlah hal baru. Mereka mengaku sudah familiar dengan pola serupa yang pernah dilakukan oleh Dedi Mulyadi saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi para tokoh publik bahwa di tengah tekanan ekonomi yang nyata, masyarakat cenderung lebih menghargai empati dan kerja nyata daripada sekadar aksi panggung yang memakan ruang publik.
Di tengah kritik tersebut, Dedi Mulyadi juga baru-baru ini meminta perlintasan kereta api di Jawa Barat dipasang pintu digital. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan keselamatan dan mengurangi risiko kecelakaan. Namun, kritik atas kirab budaya masih menjadi perhatian utama masyarakat.
Dengan demikian, diharapkan para pemimpin dapat lebih peka terhadap kebutuhan dan kondisi masyarakat, serta lebih fokus pada penyelesaian masalah riil daripada kegiatan seremonial yang tidak relevan.
