Keuangan.id – 14 April 2026 | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) kembali menegaskan pentingnya tahapan uji jalan untuk bahan bakar nabati (BBN) bernama Bobibos sebelum dapat dipasarkan secara luas. Uji jalan ini akan dilaksanakan pada kendaraan roda dua, termasuk sepeda motor bensin konvensional yang dipilih secara representatif di beberapa daerah strategis.
Bobibos, yang diproduksi dari limbah jerami padi dan bahan biomassa lokal, dirancang untuk menggantikan bensin fosil dengan kadar etanol sekitar 15‑20 persen. KESDM menargetkan agar fase uji coba selesai dalam tiga bulan ke depan, dengan hasil yang akan menjadi dasar regulasi perizinan produksi massal.
- Tujuan utama: Menilai performa mesin, emisi gas buang, serta dampak konsumsi bahan bakar pada kendaraan roda dua.
- Lokasi uji jalan: Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara, dipilih karena tingkat kepadatan kendaraan dan ketersediaan infrastruktur pengisian.
- Metodologi: Pengujian meliputi tes laboratorium, simulasi dinamika kendaraan, dan pengujian lapangan selama 1.000‑2.000 km per unit.
Hasil awal menunjukkan bahwa Bobibos dapat menurunkan emisi CO2 sebesar 10‑12 persen dibandingkan bensin murni, tanpa mengorbankan daya maksimum mesin. Konsumsi bahan bakar tercatat meningkat sekitar 3‑5 persen, yang masih berada dalam toleransi standar nasional.
Selain manfaat lingkungan, pemerintah berharap Bobibos dapat meningkatkan kemandirian energi nasional dengan memanfaatkan limbah pertanian yang melimpah. KESDM juga menyiapkan insentif fiskal bagi produsen yang berhasil memenuhi standar kualitas selama fase uji jalan.
Para pelaku industri, termasuk produsen kendaraan dan perusahaan energi, menantikan hasil uji jalan ini untuk menyesuaikan rantai pasokan dan strategi pemasaran. Jika Bobibos dinyatakan layak, perkiraan peluncuran komersial diperkirakan pada pertengahan 2025.











