Berita  

Bulog Optimis Capai Target Penyerapan 4 Juta Ton Beras Petani di 2026

Bulog Optimis Capai Target Penyerapan 4 Juta Ton Beras Petani di 2026
Bulog Optimis Capai Target Penyerapan 4 Juta Ton Beras Petani di 2026

Keuangan.id – 22 April 2026 | Jakarta, 22 April 2026 – Badan Umum Penyimpanan Pangan (Bulog) menyatakan keyakinan kuat bahwa target penyerapan 4 juta ton beras petani pada tahun 2026 dapat tercapai. Pernyataan ini didukung oleh progres signifikan di beberapa wilayah, termasuk Bali, serta upaya percepatan pembangunan jaringan gudang baru di seluruh Indonesia.

Progres Penyerapan di Bali

Bulog Kanwil Bali menargetkan penyerapan 3.786 ton setara beras pada 2026. Hingga akhir April, realisasi telah mencapai 3.419 ton atau 92,4 persen dari target. Pimpinan Kanwil Bali, Muhamad Anwar, menjelaskan bahwa strategi “jemput bola” – yaitu tim Bulog turun langsung ke sawah, titik panen, dan penggilingan – mempercepat alur penyerapan. Ia menambahkan bahwa semua gudang Bulog di kabupaten Bali telah terisi penuh dengan stok 13.000 ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan daerah selama empat bulan.

Ekspansi Gudang Nasional

Secara nasional, Bulog mengelola 1.540 unit gudang dengan kapasitas riil lebih dari 3,06 juta ton. Untuk menampung volume tambahan, Bulog menambah kapasitas melalui gudang pinjam pakai, sewa mandiri, dan jasa pergudangan. Hingga kini, 1.254 unit gudang non‑Bulog dengan kapasitas 2,68 juta ton telah aktif, memastikan penyimpanan cadangan beras pemerintah (CBP) tersebar merata.

Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan rencana pembangunan 100 lokasi gudang baru. Dari target tersebut, 88 titik telah dinyatakan siap pada April 2026. Dua belas lokasi tersisa sedang dalam proses finalisasi teknis di tingkat kabupaten/kota. Gudang yang dibangun tidak seragam; masing‑masing menyesuaikan tipologi dan komoditas unggulan daerah, mulai dari gudang padi dengan RMU di Grobogan hingga gudang logistik di Natuna dan Anambas.

Hubungan dengan Swasembada Pangan

Target swasembada pangan 2026, termasuk surplus beras 15.893 ton, masih menghadapi tekanan dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Kenaikan biaya energi meningkatkan beban operasional petani dan distributor, yang pada gilirannya memengaruhi harga beras di pasar. Pemerintah telah menyiapkan skema BBM subsidi bagi sektor pertanian, namun para petani tetap merasakan dampak kenaikan biaya input.

Meski demikian, Bulog berperan penting dalam menstabilkan pasokan. Stok nasional Bulog tercatat aman di angka 4,88 juta ton, cukup untuk menanggulangi fluktuasi pasokan dan harga. Program penyaluran beras SPHP sebesar 828.000 ton serta bantuan pangan untuk 33,2 juta keluarga menjadi instrumen tambahan untuk menjaga kestabilan harga konsumen.

Strategi Penyerapan Terpadu

  • Pelaksanaan jemput bola langsung ke lapangan, memperpendek rantai distribusi.
  • Peningkatan kapasitas gudang melalui kolaborasi dengan pihak non‑Bulog.
  • Pembangunan gudang berbasis tipologi wilayah, lengkap dengan dryer, rice milling unit, dan fasilitas packaging.
  • Koordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk percepatan persetujuan teknis.

Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah, infrastruktur penyimpanan, dan mekanisme penyerapan yang terintegrasi, Bulog optimis bahwa target penyerapan 4 juta ton beras petani pada 2026 dapat tercapai. Keberhasilan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *