Keuangan.id – 12 Maret 2026 | JAKARTA, 11 Mar 2026 – Pemerintah Indonesia mengumumkan rencana penambahan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai sekitar Rp100 triliun ke sektor perbankan. Langkah ini disambut positif oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) yang menilai kebijakan tersebut akan memperkuat likuiditas dan memperluas penyaluran kredit ke masyarakat.
Penempatan dana SAL: konteks dan implikasi
Hingga kini, pemerintah telah menempatkan sekitar Rp200 triliun dana SAL di sejumlah bank milik negara, termasuk BTN, dengan masa penempatan yang diperpanjang hingga September 2026. BTN sendiri memperoleh alokasi sekitar Rp25 triliun dari penempatan sebelumnya, yang telah dimanfaatkan untuk mendukung pembiayaan KPR, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor usaha lainnya.
Direktur Network and Retail Funding BTN, Rully Setiawan, menjelaskan, “Penambahan dana SAL ini merupakan inisiatif yang tepat untuk menjaga keseimbangan likuiditas perbankan, khususnya ketika kebutuhan pembiayaan meningkat. Dengan likuiditas yang memadai, bank dapat menyalurkan kredit tanpa harus bersaing terlalu ketat dalam menghimpun dana masyarakat.”
Tekanan likuiditas pada awal 2025
Pada awal 2025, sektor perbankan mengalami tekanan likuiditas akibat lonjakan permintaan pembiayaan dan pergeseran dana masyarakat ke instrumen investasi lainnya. “Di awal tahun lalu memang sempat ada perebutan likuiditas antarbank. Namun kondisi itu sangat terbantu dengan adanya penempatan dana SAL,” ujar Rully.
Penambahan Rp100 triliun diharapkan memberi ruang lebih luas bagi bank, termasuk BTN, untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif, terutama UMKM yang tetap membutuhkan akses permodalan. “Fundamental ekonomi Indonesia masih baik. UMKM juga bertumbuh dan tetap membutuhkan pembiayaan dari bank,” tambahnya.
Operasional BTN selama libur Lebaran 2026
Sementara kebijakan dana SAL sedang dipersiapkan, BTN juga menyesuaikan operasionalnya selama libur Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 2026. Berdasarkan jadwal yang dirilis oleh IDN Times, BTN tidak akan membuka kantor cabang secara fisik pada periode 18–24 Maret 2026. Namun, layanan perbankan digital tetap aktif melalui mobile banking, ATM, serta kanal elektronik lainnya.
- Layanan mobile banking (BTN Mobile) tetap dapat diakses 24 jam.
- ATM BTN beroperasi penuh tanpa batasan.
- Transaksi melalui internet banking dan aplikasi e‑wallet tetap tersedia.
Dengan kombinasi dana SAL tambahan dan layanan digital yang terus berjalan, BTN berupaya memastikan kelancaran penyaluran kredit meski terjadi penutupan sementara jaringan cabang.
Strategi penyaluran dana SAL ke sektor prioritas
BTN merencanakan alokasi dana SAL yang baru dengan fokus pada beberapa prioritas:
- Kredit perumahan (KPR): Memperkuat pasar properti dengan suku bunga kompetitif.
- Kredit UMKM: Menyediakan pembiayaan modal kerja dan investasi untuk usaha kecil.
- Sektor industri menengah: Mendukung ekspansi produksi dan modernisasi teknologi.
- Program pembiayaan hijau: Mengalirkan dana ke proyek energi terbarukan dan efisiensi energi.
Menurut data internal BTN, alokasi dana SAL sebelumnya telah menyalurkan lebih dari Rp30 triliun dalam bentuk kredit KPR, UMKM, dan pembiayaan proyek infrastruktur pada tahun 2024‑2025.
Harapan dan tantangan ke depan
Dengan tambahan dana SAL, BTN menargetkan peningkatan portofolio kredit bersih sebesar 12 % pada akhir 2026. Namun, tantangan tetap ada, antara lain fluktuasi nilai tukar, tekanan inflasi, dan kebutuhan untuk menjaga kualitas aset di tengah ekspansi kredit.
Rully Setiawan menegaskan komitmen BTN untuk terus memantau kondisi likuiditas dan menyesuaikan strategi pembiayaan secara dinamis. “Kami akan terus berkoordinasi dengan otoritas moneter dan regulator guna memastikan stabilitas keuangan serta melindungi kepentingan nasabah,” tuturnya.
Secara keseluruhan, penambahan dana SAL Rp100 triliun menjadi sinyal kuat pemerintah untuk memperkuat sistem keuangan nasional, sementara BTN siap memanfaatkan peluang tersebut untuk meningkatkan inklusi keuangan, khususnya bagi UMKM dan masyarakat luas.











