Keuangan.id – 19 April 2026 | Bank Negara Indonesia (BNI) menyatakan bahwa risiko kredit valas (foreign exchange) tetap berada dalam batas aman meski nilai tukar rupiah mengalami tekanan signifikan sejak awal tahun 2024.
Faktor-faktor yang memicu tekanan rupiah
Rupiah melemah akibat defisit neraca berjalan, aliran modal keluar, serta ekspektasi kebijakan moneter yang ketat. Kondisi ini meningkatkan beban bagi debitur yang memiliki pinjaman dalam mata uang asing karena nilai kewajiban dalam rupiah naik.
Strategi BNI mengendalikan risiko
BNI mengandalkan tiga pilar utama: natural hedge, diversifikasi mata uang, dan penyesuaian suku bunga. Mayoritas nasabah korporat BNI memiliki pendapatan atau penjualan dalam mata uang asing, sehingga secara alami dapat menutupi kewajiban valas (natural hedge). Selain itu, bank meningkatkan proporsi pinjaman dalam dolar AS, euro, dan yen untuk menyeimbangkan eksposur.
| Strategi | Implementasi |
|---|---|
| Natural Hedge | Memastikan 70% debitur korporat memiliki pendapatan valas |
| Diversifikasi Mata Uang | Penambahan pinjaman euro & yen sebesar 12% YoY |
| Penyesuaian Suku Bunga | Penetapan margin berbasis risiko kredit valas |
Dengan pendekatan tersebut, BNI melaporkan bahwa rasio eksposur kredit valas terhadap total kredit tetap di bawah 10%, jauh di bawah ambang batas risiko yang ditetapkan regulator.
Pengamat pasar menilai langkah BNI sebagai contoh prudensi yang dapat diikuti oleh bank lain. Sementara itu, BNI tetap memantau dinamika pasar valuta asing dan siap menyesuaikan kebijakan bila terjadi volatilitas yang lebih ekstrem.
